Badai Goretti menghantam Eropa barat laut pada 8–9 Januari 2026 dengan angin berkekuatan setara badai topan dan hujan salju lebat, memicu peringatan cuaca merah yang jarang terjadi di sejumlah negara. Sistem cuaca ekstrem ini melanda Inggris, Prancis, Jerman, dan Belanda, memutus aliran listrik bagi lebih dari 440.000 rumah serta menewaskan sedikitnya delapan orang di berbagai wilayah Eropa.
Di Inggris, Met Office mengeluarkan peringatan merah—tingkat tertinggi—untuk Cornwall dan Kepulauan Scilly pada Kamis sore hingga malam hari, menandakan kondisi “sangat berbahaya dan penuh badai.” Hembusan angin mencapai 99 mph (159 km/jam) di Bandara St Mary, Kepulauan Scilly, sekaligus mencatat rekor tertinggi baru di lokasi tersebut.
Sementara itu di Prancis, otoritas mencatat hembusan angin ekstrem hingga 216 km/jam di wilayah barat laut Manche. Sekitar 380.000 rumah tangga kehilangan listrik, terutama di Normandia. Di Inggris, National Grid melaporkan sekitar 60.000–65.000 rumah masih belum mendapatkan aliran listrik hingga Jumat pagi, mayoritas di Inggris barat daya dan West Midlands.
Fenomena “Bom Cuaca” Picu Dampak Berlapis
Kepala peramal Met Office, Neil Armstrong, menggambarkan Goretti sebagai peristiwa “multi-bahaya”, dengan dampak paling signifikan berupa hujan salju tebal di Wales dan Midlands. Di kawasan dataran tinggi, ketebalan salju mencapai 20–30 sentimeter.
Badai ini terbentuk melalui fenomena explosive cyclogenesis, yang kerap disebut sebagai “bom cuaca”—yakni penurunan tekanan atmosfer yang sangat cepat sehingga menghasilkan angin ekstrem dalam waktu singkat.
Transportasi Lumpuh, Ratusan Penerbangan dan Kereta Dibatalkan
Cuaca ekstrem memicu kekacauan perjalanan luas di Eropa. Bandara Birmingham menutup landasan pacunya hampir 10 jam sebelum kembali beroperasi secara terbatas pada Jumat pagi. British Airways membatalkan 25 penerbangan keberangkatan dan 27 kedatangan di Bandara Heathrow London.
Network Rail mengeluarkan imbauan “jangan bepergian” untuk Birmingham dan sekitarnya akibat hujan salju sangat lebat. Layanan kereta antara Sheffield dan Manchester dihentikan hingga Sabtu, sementara seluruh layanan di Cornwall terhenti hingga siang hari Jumat. Transport for Wales membatalkan sebagian besar rutenya dan meminta warga hanya bepergian jika benar-benar mendesak.
Lebih dari 250 sekolah ditutup di Inggris, termasuk lebih dari 150 sekolah di Aberdeenshire serta puluhan lainnya di wilayah Highlands.
Dampak Meluas hingga Jerman dan Belanda
Di Jerman, Deutsche Bahn mengerahkan lebih dari 14.000 pegawai untuk membersihkan salju dari rel dan peron setelah hujan salju hingga 15 cm melanda wilayah utara. Sekolah-sekolah ditutup di Hamburg dan Bremen, sementara Layanan Cuaca Jerman memperingatkan suhu bisa anjlok hingga -20°C pada akhir pekan.
Belanda menetapkan peringatan kode oranye untuk Groningen, Friesland, dan Drenthe, dengan prakiraan hujan salju hingga 15 cm di wilayah utara negara itu.
Delapan Orang Tewas Akibat Cuaca Ekstrem
Cuaca ekstrem akibat Badai Goretti menewaskan sedikitnya delapan orang di Eropa. Di Prancis, lima korban jiwa dilaporkan, termasuk tiga orang yang tewas dalam kecelakaan lalu lintas akibat jalan licin serta seorang sopir taksi yang mobilnya tercebur ke Sungai Marne.
Di Bosnia, seorang perempuan meninggal dunia setelah tertimpa pohon yang tumbang akibat salju berat di Sarajevo. Sementara di Albania, polisi menemukan jasad seorang pria di kota pesisir Durres setelah banjir menyusul hujan deras dan salju selama beberapa hari.
Mengutip France24, otoritas setempat di Manche mengimbau warga untuk tetap berada di dalam rumah, tidak menggunakan kendaraan, serta menyiapkan penerangan darurat dan persediaan air. Di Inggris, Badan Keamanan Kesehatan mengeluarkan peringatan cuaca dingin level amber, memperingatkan meningkatnya risiko kesehatan bagi lansia dan penderita penyakit kronis.