Pemandangan tak biasa terlihat di perbatasan Arab Saudi. Di tengah gempuran rudal yang melumpuhkan ruang udara Dubai, Abu Dhabi, Doha, hingga Manama, Riyadh kini mendadak menjadi “satu-satunya pintu keluar” bagi dunia.
Arab Saudi menjadi benteng keselamatan utama bagi ekspatriat kaya, eksekutif perusahaan global, dan jutaan pekerja asing yang terdampar di tengah konflik eskalasi besar-besaran sejak 28 Februari lalu.
Konvoi SUV dan Harga Jet yang “Gila”
Ketika bandara-bandara regional utama ditutup total akibat kerusakan fasilitas dan ancaman keamanan, satu-satunya cara untuk keluar adalah melalui darat. Perusahaan keamanan swasta kini kebanjiran pesanan untuk menyediakan armada SUV guna membawa klien mereka menempuh perjalanan darat selama 10 jam dari Dubai menuju Riyadh.
Di sisi lain, bagi mereka yang punya akses ke udara, langit Riyadh menjadi jalur kehidupan. Namun, kebebasan itu tidak murah. CEO Vimana Private Jets, Ameerh Naran, menyebut biaya sewa jet pribadi untuk rute Riyadh ke Eropa telah melonjak hingga menyentuh angka $350.000 (sekitar Rp5,5 miliar).
“Arab Saudi adalah satu-satunya pilihan realistis untuk keluar dari wilayah ini,” ujar Naran. Sebelumnya, rencana evakuasi melalui Oman pun gagal total setelah Iran menyerang fasilitas pelabuhan dan kapal tanker di sana.
Riyadh tetap menjadi satu-satunya hub besar yang beroperasi karena posisi diplomatik Arab Saudi. Putra Mahkota Mohammed bin Salman secara tegas menyatakan tidak akan membiarkan wilayah udara atau darat Arab Saudi digunakan untuk menyerang Iran, menjaga stabilitas negaranya di tengah badai perang yang melanda tetangganya.
Dunia Bergerak: Protokol Evakuasi Skala Besar
Sementara para eksekutif mencari jalan keluar sendiri, pemerintah berbagai negara kini dalam mode panik untuk menyelamatkan jutaan warga negara mereka:
-
India: Mengoordinasikan saluran darurat 24 jam di seluruh Teluk dan mulai menyusun rencana kontingensi evakuasi skala besar.
-
Inggris: Merencanakan evakuasi bagi 76.000 warga negaranya yang terdaftar di kawasan tersebut (lebih dari 50.000 berada di UEA).
-
Filipina: Menyiapkan pasukan pertahanan untuk operasi kemanusiaan bagi 2,4 juta pekerja mereka.
-
Thailand: Memprioritaskan evakuasi warganya yang terjebak di Iran dengan pesawat khusus.
-
Nepal: Meminta 2 juta warganya di kawasan tersebut untuk berlindung di dalam ruangan dan menunda seluruh rencana perjalanan.
“Shutdown” Total
Dampak konflik ini melumpuhkan aktivitas publik secara total. Sekolah dan universitas di UEA, Qatar, dan Bahrain telah dialihkan ke pembelajaran jarak jauh.
Bandara Internasional Dubai—yang biasanya menjadi denyut nadi penerbangan dunia—kini mati suri setelah salah satu terminalnya rusak akibat serangan rudal. Maskapai global pun berbondong-bondong membatalkan ratusan penerbangan, memutus koneksi wilayah Teluk dari seluruh dunia.