JAKARTA — Kemacetan lalu lintas masih menjadi persoalan serius di berbagai kota besar dunia. Sepanjang 2025, tingkat kepadatan kendaraan di sejumlah wilayah perkotaan tercatat semakin tinggi dan berdampak langsung pada efisiensi waktu perjalanan masyarakat. Kondisi tersebut terekam dalam laporan TomTom Traffic Index 2025 yang memeringkat kota-kota paling macet di dunia berdasarkan tingkat kemacetan lalu lintas.
Dalam daftar tersebut, beberapa kota besar dari berbagai kawasan dunia mendominasi peringkat teratas. Kota Meksiko menempati posisi pertama sebagai kota paling macet di dunia pada 2025 dengan tingkat kemacetan mencapai 75,9 persen. Posisi berikutnya diisi oleh Bengaluru dengan 74,4 persen, disusul Dublin sebesar 72,9 persen. Sementara itu, kota-kota di Eropa Timur dan Amerika Latin juga masuk dalam jajaran teratas, seperti Lodz (72,8 persen), Pune (71,1 persen), Lublin (70,4 persen), Bogota (69,6 persen), dan Arequipa (69,5 persen).
Menariknya, Indonesia juga masuk dalam daftar kota termacet dunia. Bandung, Ibu Kota Provinsi Jawa Barat, berada di peringkat ke-16 dunia dengan tingkat kemacetan mencapai 64,1 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa waktu perjalanan rata-rata di jaringan jalan Kota Bandung menjadi 64,1 persen lebih lama dibandingkan kondisi lalu lintas yang lancar.
Dalam laporan TomTom dijelaskan, yang dilansir dari Dataindonesia.id, tingkat kemacetan menggambarkan peningkatan waktu tempuh akibat kepadatan lalu lintas. Sebagai contoh, apabila suatu kota memiliki tingkat kemacetan 40 persen, maka rata-rata waktu perjalanan di wilayah tersebut menjadi 40 persen lebih lama dibandingkan saat kondisi jalan tanpa hambatan.
Sejumlah faktor memengaruhi tingginya tingkat kemacetan di suatu kota. Perubahan infrastruktur jalan, penerapan batas kecepatan, serta pertumbuhan volume kendaraan menjadi variabel utama yang menentukan tingkat kepadatan lalu lintas. Selain itu, pola mobilitas masyarakat perkotaan dan ketergantungan pada kendaraan pribadi juga turut memperburuk kondisi lalu lintas.