Banjir yang melanda Kota Pekalongan terus meluas hingga Senin (19/1/2026), memaksa ribuan warga mengungsi serta mengganggu perjalanan kereta api di jalur pantura Jawa. Pemerintah Kota Pekalongan resmi menetapkan status tanggap darurat bencana selama 14 hari, terhitung sejak Minggu (18/1) malam.
Data sementara mencatat sekitar 2.400 jiwa mengungsi di 24 posko pengungsian yang tersebar di berbagai wilayah. Banjir dipicu hujan deras sejak Jumat (16/1) malam yang diperparah luapan Sungai Bremi, menyusul kondisi tanggul yang belum permanen.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pekalongan melaporkan 8.692 kepala keluarga (KK) terdampak di empat kecamatan, dengan ketinggian air bervariasi antara 20 hingga 100 sentimeter.
Wagub Jateng: Prioritaskan Keselamatan Kelompok Rentan
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen meninjau langsung lokasi banjir di Kelurahan Tirto, Kecamatan Pekalongan Barat, Senin (19/1). Ia menegaskan bahwa penanganan jangka pendek difokuskan pada mitigasi darurat dan keselamatan warga, terutama kelompok rentan.
“Kita pastikan masyarakat aman, khususnya lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas. Sejumlah warga sudah dievakuasi dan ditempatkan di lokasi pengungsian,” ujar Taj Yasin.
Untuk penanganan jangka menengah, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan menindaklanjuti perbaikan tanggul Sungai Bremi yang menjadi kewenangan provinsi. Sementara dalam jangka panjang, pemerintah pusat telah menyiapkan anggaran sekitar Rp50 miliar untuk program normalisasi Sungai Bremi yang direncanakan mulai dikerjakan pada 2026.
Pengungsian Hampir Penuh, Banjir Terbesar Sejak 2021
Wali Kota Pekalongan Afzan Arslan Djunaid menyebut banjir kali ini sebagai yang terbesar sejak 2021. Beberapa lokasi pengungsian dilaporkan hampir mencapai kapasitas maksimum, di antaranya Masjid Al-Karomah yang menampung sekitar 330 warga dan Aula Kecamatan Pekalongan Barat dengan sekitar 450 pengungsi.
Puluhan Perjalanan Kereta Api Dibatalkan
Dampak banjir juga merembet ke sektor transportasi. PT Kereta Api Indonesia (KAI) membatalkan 82 perjalanan kereta api penumpang sejak Sabtu (17/1) akibat genangan yang merendam jalur rel antara Stasiun Pekalongan dan Stasiun Sragi.
Hingga Senin (19/1), masih terdapat 23 perjalanan KA yang dibatalkan meski kondisi jalur perlahan membaik.
“Keselamatan perjalanan kereta api adalah prioritas utama kami. Pembatalan masih dilakukan untuk menghindari potensi risiko di lintasan,” kata Manager Humas KAI Daop 4 Semarang, Luqman Arif.
Kesaksian Warga: Air Menenggelamkan Rumah Hingga Atap
Salah satu warga terdampak, Sujatmiko (60), mengungkapkan bahwa rumahnya terendam banjir hingga hanya atap yang terlihat.
“Air berasal dari tanggul Sungai Bremi yang jebol, lalu meluap ditambah hujan deras. Wilayah Tirto memang langganan banjir, tapi yang sekarang ini paling parah,” ujarnya dari lokasi pengungsian.