NTT — Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, terjun langsung ke Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, untuk mengawal proses evakuasi korban gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang melanda kawasan tersebut. Kehadirannya bertepatan dengan hari kedua operasi pencarian dan pertolongan (SAR) yang kini diperluas ke tiga kabupaten terdampak, yaitu Manggarai Timur, Manggarai, dan Nagekeo.
Untuk mempercepat penanganan darurat, Basarnas menyiagakan satu unit helikopter di Bandara Komodo, Labuan Bajo, guna mendukung evakuasi medis udara jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi memperkuat respons cepat di wilayah-wilayah yang sulit dijangkau akibat dampak gempa.
Kepala Kantor SAR Maumere yang juga bertindak sebagai SAR Mission Coordinator (SMC), Fathur Rahman, memastikan rombongan Kepala Basarnas telah tiba di lokasi dan dijadwalkan meninjau langsung titik-titik terdampak di Manggarai Timur. “Bapak Kepala Basarnas bersama rombongan telah tiba dan dijadwalkan meninjau wilayah terdampak di Kabupaten Manggarai Timur. Selain itu, helikopter Basarnas juga telah disiagakan untuk mendukung proses evakuasi medis udara secara cepat apabila diperlukan dan saat ini disiagakan di Bandara Komodo Labuan Bajo,” ujar Fathur Rahman.
Di lapangan, tim gabungan yang terdiri atas personel Kantor SAR Maumere, TNI, Polri, dan warga sekitar berhasil mengevakuasi jasad seorang nelayan yang sebelumnya dilaporkan tenggelam saat gempa mengguncang. Korban ditemukan sekitar pukul 09.30 WITA di perairan Pantai Waso, Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda, dalam keadaan sudah tidak bernyawa.
Selain penyisiran laut, tim SAR juga melakukan pencarian darat di Manggarai dan Nagekeo sesuai Rencana Operasi hari kedua, dengan radius pencarian mencapai 6,3 kilometer. Wilayah yang menjadi fokus penyisiran meliputi Kecamatan Reo di Manggarai, serta Kelurahan Mbay, Desa Tungurambang, Desa Nangadhero, dan Desa Marpokot di Nagekeo. Hingga saat ini, penyisiran di sejumlah titik tersebut belum menemukan tambahan korban jiwa baru.
Berdasarkan data dan verifikasi faktual di lapangan hingga Minggu, 16 Agustus 2026 pukul 14.00 WITA, jumlah korban meninggal dunia tercatat sebanyak 51 orang, sementara 132 orang lainnya mengalami luka berat maupun ringan. Dengan demikian, total korban terdampak gempa yang telah terdata mencapai 183 orang.
Basarnas menegaskan bahwa angka tersebut masih bersifat sementara dan berpotensi berubah seiring perkembangan di lapangan. Pembaruan data akan terus dilakukan melalui koordinasi berkelanjutan dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat dan unsur-unsur potensi SAR lain, sementara operasi pencarian dan pertolongan tetap berlangsung menyesuaikan situasi terkini.



