JATIM – Tim Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) terus berupaya maksimal mencari korban tenggelamnya Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya di perairan Selat Bali. Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, memastikan bahwa operasi pencarian dapat diperpanjang jika masih ada korban yang belum ditemukan, dengan syarat tertentu.
Pencarian korban kapal yang tenggelam pada Rabu (2/7/2025) malam ini telah memasuki hari kelima. Sesuai Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan, operasi SAR biasanya dilakukan selama maksimal tujuh hari. Namun, Basarnas membuka peluang untuk memperpanjang masa pencarian demi memastikan seluruh korban dapat ditemukan.
Evaluasi Menentukan Kelanjutan Operasi
Mohammad Syafii menjelaskan bahwa evaluasi akan dilakukan pada hari ketujuh pasca-kejadian. Jika seluruh korban berhasil ditemukan sebelum batas waktu tersebut, operasi akan dihentikan. Namun, jika masih ada korban yang belum ditemukan, Basarnas akan melakukan evaluasi untuk memutuskan kelanjutan operasi.
“Misalkan tujuh hari belum semuanya ditemukan, kami akan melakukan evaluasi. Kemudian operasi akan kami lanjutkan sesuai kebutuhan,” kata Syafii usai rapat bersama Komisi V DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (7/7/2025).
Tantangan Pencarian di Selat Bali
KMP Tunu Pratama Jaya tenggelam di perairan Selat Bali saat berlayar dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Kapal yang mengangkut 53 penumpang, 12 kru, dan 22 kendaraan itu kehilangan kontak sekitar pukul 23.15 WIB dan dinyatakan tenggelam beberapa menit kemudian. Hingga kini, 30 korban masih dinyatakan hilang, sementara 29 orang selamat dan tujuh lainnya ditemukan meninggal dunia.
Operasi pencarian menghadapi tantangan berat, seperti gelombang laut setinggi 2–2,5 meter, angin kencang, dan arus laut yang kuat. Untuk mengatasi hal ini, Basarnas mengerahkan teknologi canggih, termasuk kapal dengan sonar untuk menyisir dasar laut serta helikopter untuk observasi udara. Tim SAR gabungan, yang melibatkan TNI AL, Polri, BMKG, dan instansi terkait, juga diperkuat dengan pasukan khusus dan kapal perang seperti KRI Spica dan KRI Fanildo 732.
Komitmen Maksimal untuk Keluarga Korban
Syafii menegaskan bahwa Basarnas tidak menetapkan batas waktu pasti untuk operasi ini. “Kami tidak bisa berandai-andai. Fokus kami adalah memaksimalkan pencarian agar semua korban dapat ditemukan,” ujarnya, menjawab pertanyaan tentang kemungkinan evakuasi hingga kapal berhasil diangkat.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka juga turut memantau operasi ini. Dalam kunjungannya ke Posko SAR di Pelabuhan Ketapang pada Minggu (6/7/2025), Gibran memastikan proses pencarian berjalan optimal dan memberikan dukungan moril kepada keluarga korban.
Harapan Keluarga dan Upaya Kolaboratif
Pencarian yang dilakukan hingga malam hari untuk memaksimalkan *golden time* menunjukkan komitmen tim SAR. Basarnas juga bekerja sama dengan nelayan lokal dan kapal-kapal yang melintas di Selat Bali untuk membantu melaporkan tanda-tanda keberadaan korban. Teknologi sonar dan armada udara-laut terus dioptimalkan untuk mendeteksi bangkai kapal yang diduga bergeser akibat arus laut.
Tragedi ini telah menyita perhatian publik, termasuk Presiden Prabowo Subianto, yang langsung memerintahkan evakuasi cepat meski sedang menjalankan ibadah umrah di Makkah. Dengan semangat kolaborasi dan teknologi canggih, Basarnas berharap dapat segera menemukan korban yang masih hilang dan memberikan kepastian kepada keluarga yang menanti.