WASHINGTON, AS — Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara tegas menolak kemungkinan memerintahkan operasi khusus untuk menangkap Presiden Rusia Vladimir Putin, menyusul aksi penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh pasukan elite Amerika Serikat pekan lalu.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat menjawab pertanyaan jurnalis Fox News, Peter Doocy, dalam pertemuan dengan para eksekutif perusahaan minyak di Gedung Putih pada Jumat (9/1/2026).
“Sepertinya dia ingin Anda pergi dan menangkap Vladimir Putin,” kata Doocy, merujuk pada komentar Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. “Apakah Anda akan pernah memerintahkan misi untuk pergi dan menangkap Vladimir Putin?”
Trump menjawab, “Saya rasa itu tidak perlu. Saya selalu memiliki hubungan yang baik dengannya.” Ia juga mengaku sangat kecewa karena upayanya menengahi gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina selama setahun terakhir tidak membuahkan hasil.
Komentar Trump muncul sebagai respons atas reaksi Zelensky terhadap operasi militer Amerika Serikat bertajuk *Absolute Resolve* pada 3 Januari 2026. Dalam operasi tersebut, pasukan komando Delta Force AS berhasil menyusup ke kompleks kediaman Presiden Venezuela Nicolás Maduro di Caracas, menangkap Maduro beserta istrinya, dan membawanya ke Amerika Serikat untuk menghadapi dakwaan terkait narkotika dan perdagangan senjata.
Menanggapi operasi tersebut, Zelensky menyatakan, “Jika Amerika Serikat dapat melakukan itu terhadap para diktator, maka Amerika tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya.”
Namun, operasi militer AS itu menuai kecaman keras dari Moskow. Utusan Rusia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Vassily Nebenzia, menyebut aksi tersebut sebagai “perampokan” yang mendorong dunia menuju kekacauan dan pelanggaran hukum internasional. Rusia menilai penangkapan Maduro sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan Venezuela.
Di sisi lain, ketegangan antara Rusia dan Ukraina terus berlanjut. Bulan lalu, Moskow mengklaim berhasil menembak jatuh hampir 100 drone Ukraina yang diduga menargetkan salah satu kediaman resmi Presiden Putin di Wilayah Novgorod. Meski Kyiv membantah adanya rencana serangan terhadap rumah liburan Putin, pejabat militer Rusia mengaku telah menyerahkan bukti kepada Amerika Serikat berupa peralatan navigasi drone yang menunjukkan jalur penerbangan menuju target tersebut.
Penolakan Trump terhadap gagasan penangkapan Putin menegaskan pendekatannya yang mengedepankan hubungan personal dengan pemimpin Rusia, sekaligus mencerminkan kekecewaannya atas kegagalan diplomasi dalam menyelesaikan konflik Ukraina. Sementara itu, komunitas internasional terus mencermati dampak geopolitik dari operasi Amerika Serikat di Venezuela, yang oleh banyak pihak dinilai sebagai preseden berbahaya dalam hubungan antarnegara.