WASHINGTON , AS – Kenaikan biaya hidup yang tak terkendali di Amerika Serikat mendorong banyak warga untuk menguras tabungan dan mengambil utang demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Laporan terbaru dari Biro Sensus AS, dirilis pada Kamis (7/8/2025), mengungkapkan fakta mencengangkan: 60% rumah tangga di AS kesulitan membayar tagihan rutin, memaksa mereka mengorbankan tabungan atau menumpuk utang kartu kredit.
Data Biro Sensus AS menunjukkan bahwa 40% warga Amerika telah menggunakan tabungan mereka untuk kebutuhan pokok seperti makanan, bahan bakar, bensin, dan perumahan. “Kami melihat peningkatan yang signifikan dalam jumlah rumah tangga yang tidak mampu membayar pengeluaran rutin mereka,” ungkap laporan tersebut. Sebanyak 25% rumah tangga dilaporkan berutang untuk menutupi biaya hidup, dengan 15% di antaranya terpaksa menunda pembayaran tagihan.
Tren Mengkhawatirkan: Makan Tabungan dan Utang Membengkak
Tren “makan tabungan” semakin marak di tengah inflasi yang melonjak dan stagnasi upah. Harga bahan bakar melonjak 30% dalam setahun terakhir, sementara biaya perumahan naik 20%, membuat banyak keluarga kelas menengah dan bawah terjepit.
“Orang-orang hidup dari gaji ke gaji, tetapi gaji itu tidak cukup lagi,” kata ekonom senior Moody’s Analytics, Ryan Sweet.
“Ini adalah krisis biaya hidup yang nyata.”
Laporan Biro Sensus juga mencatat bahwa 30% rumah tangga telah menggunakan kartu kredit untuk kebutuhan sehari-hari, meningkat 10% dari tahun sebelumnya. Sementara itu, tabungan pribadi rata-rata turun ke level terendah dalam satu dekade, menandakan tekanan finansial yang semakin berat.
Kisah Nyata di Balik Angka
Salah satu warga, Cassandra Rivera, seorang ibu tunggal dari Phoenix, Arizona, berbagi pengalamannya. “Saya sudah menghabiskan tabungan saya untuk membayar sewa dan bahan makanan,” ujarnya. “Sekarang saya menggunakan kartu kredit untuk bensin, tapi bunganya sangat tinggi.” Cerita Rivera mencerminkan kenyataan pahit yang dihadapi jutaan warga Amerika, di mana opsi seperti menunda pembayaran tagihan atau mengambil pinjaman berisiko tinggi menjadi solusi terpaksa.
Pemerintah Berupaya Meredam Krisis
Pemerintah AS telah meluncurkan beberapa inisiatif, termasuk keringanan pajak dan subsidi energi, namun banyak yang merasa langkah ini belum cukup. “Kami membutuhkan solusi jangka panjang untuk mengatasi inflasi dan meningkatkan upah minimum,” kata Sweet. Namun, dengan suku bunga Federal Reserve yang tetap tinggi untuk menekan inflasi, biaya pinjaman juga meningkat, memperburuk beban utang masyarakat.
Dampak Jangka Panjang dan Harapan ke Depan
Para ahli memperingatkan bahwa ketergantungan pada tabungan dan utang dapat memicu krisis keuangan yang lebih besar jika tidak segera ditangani.
“Jika tren ini berlanjut, kita bisa melihat gelombang kebangkrutan rumah tangga dalam beberapa tahun ke depan,” ujar Sweet.
Sementara itu, kelompok advokasi mendorong kebijakan seperti pengendalian harga sewa dan perluasan program bantuan sosial untuk meringankan beban masyarakat.
Krisis biaya hidup ini menjadi sorotan utama menjelang pemilu paruh waktu, dengan para pemilih menuntut solusi konkret dari para pemimpin.