JAKARTA – Amerika Serikat diguncang oleh gelombang protes yang tak tertandingi! Sabtu (19/10/2025), lebih dari ratusan ribu warga dari seluruh penjuru negeri turun ke jalan untuk menentang keras kebijakan Presiden Donald Trump dalam aksi protes massal bertajuk “No Kings”. Demonstrasi ini tak hanya menjadi ajang penolakan terhadap kebijakan pemerintahannya, tapi juga menjadi panggung bagi para selebriti Hollywood untuk menyuarakan perlawanan mereka terhadap apa yang mereka sebut sebagai “raja palsu” di Gedung Putih.
Protes ini muncul sebagai reaksi terhadap kebijakan kontroversial Trump, termasuk penyerangan ICE terhadap imigran, pengerahan National Guard di kota-kota besar, dan pemangkasan besar-besaran program federal. Peserta aksi menyuarakan kecaman keras terhadap apa yang mereka anggap sebagai serangan terhadap demokrasi.
Dilansir dari Variety, Mark Ruffalo, aktor yang dikenal dengan sikap anti-Trump, tidak ketinggalan dalam mendukung aksi ini. Melalui Threads, ia menulis, “Amazing! Begitu banyak orang cinta USA dan tolak NOKINGS!” Menjadi panggilan bagi jutaan pengikutnya untuk bergabung dalam perlawanan.
Jimmy Kimmel pun tak kalah aktif, membanjiri Instagram dengan infografis yang memuat berbagai julukan ejekan untuk Trump seperti “Commander-in-Theif”, “Greedy McGolfy”, hingga “Orange Julius Caesar”. “Saat bikin poster #NoKings, ingat: Donald Trump SUKA julukan bagus!” sindir Kimmel yang berhasil memicu tawa sekaligus kecaman dari ribuan komentator.
Tidak kalah dramatis, Robert De Niro, aktor legendaris yang sering berbicara tentang politik, muncul dalam sebuah video TikTok bersama kelompok aktivis Indivisible. Dengan penuh semangat, De Niro mengingatkan akan sejarah protes terhadap Raja George III yang terjadi 250 tahun lalu. “Kita bangkit lagi, nonkekerasan, teriak: NO KINGS!” serunya, mengingatkan tentang perjuangan demokrasi yang pernah mengorbankan banyak nyawa.
Sementara itu, John Cusack menyuarakan kebenciannya terhadap kebangkitan fasisme lewat wawancara eksklusif dengan News 4 San Antonio. Ia menambahkan, “Melihat cosplay fasis kanan yang lama-lama jadi nyata… predictable, tapi menyedihkan banget!”
Paul Schrader, penulis legendaris di balik film Taxi Driver, memperlihatkan foto Times Square di Facebook yang singkat namun bermakna: “I was there.” Glenn Close, dengan spanduk bertuliskan “No oligarchs. No dictators. No despots. No autocrats. No kings!!”, turut mempertegas penentangannya terhadap pemerintahan otoriter, mengutip Abraham Lincoln: “Pemerintahan oleh rakyat, untuk rakyat, dari rakyat, tak boleh binasa dari bumi!”
Protes “No Kings” ini jelas bukan hanya sekadar aksi jalanan biasa. Lebih dari sekadar penolakan terhadap Trump, ini adalah simbol perlawanan terhadap otoritarianisme. Dengan semakin banyaknya selebriti yang turut bergabung, perlawanan ini menjadi gerakan massal yang bisa mengubah arah politik di Amerika.
Aksi ini bukanlah akhir, melainkan panggilan darurat demokrasi yang semakin membesar. Dengan semakin banyaknya selebriti yang bergabung, protes “No Kings” telah menjadi gelombang yang melibatkan masyarakat luas. Apakah gerakan ini cukup kuat untuk menggulingkan singgasana Trump? Hanya waktu yang akan menjawab.