JAKARTA – Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tegas yang memimpin Iran selama puluhan tahun dalam konfrontasi dengan Barat, meninggal dunia pada usia 86 tahun akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026. Media resmi Iran mengonfirmasi kematiannya keesokan hari, menyebutnya sebagai syahid dan menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari di tengah ketegangan regional yang memuncak.
Khamenei lahir dengan nama Ali Hosseini Khamenei pada 19 April 1939 di kota suci Mashhad. Ia tumbuh dari latar belakang keluarga ulama sederhana menjadi pemimpin tertinggi Iran terlama dalam sejarah pasca-revolusi. Sebagai anak kedua dari delapan bersaudara dalam keluarga religius Syiah, dengan ayah seorang ulama tingkat menengah, ia kerap mengenang masa kecilnya yang “miskin tapi saleh”. Keluarganya hidup sederhana, terkadang hanya makan roti dan kismis, di rumah sempit sekitar 65 meter persegi yang terdiri dari satu ruang utama dan ruang bawah tanah.
Pendidikan Agama dan Kebangkitan Politik
Sejak kecil, Khamenei mempelajari Al-Qur’an dan ilmu agama. Ia memulai pendidikan di seminari Mashhad, lalu melanjutkan ke Qom pada 1958, di mana ia belajar langsung di bawah bimbingan Ayatollah Ruhollah Khomeini. Pada periode 1958–1964, ia mendalami fikih, ushul, dan filsafat Islam. Ia juga sempat belajar di Najaf, Irak.
Selain teologi, Khamenei dikenal sebagai pecinta sastra dan puisi, termasuk karya-karya Barat seperti Leo Tolstoy, Victor Hugo, dan John Steinbeck. Ia juga menerjemahkan tulisan ideolog Islam radikal Sayyid Qutb ke dalam bahasa Persia.
Pada 1960-an, Khamenei aktif dalam gerakan oposisi melawan rezim Shah Mohammad Reza Pahlavi. Ia bergabung dengan gerakan Khomeini, yang membuatnya beberapa kali ditangkap dan dipenjara oleh polisi rahasia SAVAK.
Peran Pasca-Revolusi Islam 1979
Setelah Revolusi Islam menggulingkan monarki pada 1979, Khamenei dengan cepat menduduki sejumlah posisi strategis, antara lain anggota Dewan Revolusi, Wakil Menteri Pertahanan, komandan sementara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), serta anggota parlemen.
Pada Juni 1981, ia selamat dari upaya pembunuhan ketika bom tersembunyi dalam sebuah perekam meledak saat ia berpidato di Teheran. Ledakan itu menyebabkan kelumpuhan permanen pada lengan kanannya.
Ia terpilih sebagai Presiden Iran pada 1981 dan kembali terpilih pada 1985, menjabat dua periode selama Perang Iran-Irak (1980–1988). Sebagai presiden, ia memperkuat hubungan dengan IRGC dan membentuk kebijakan luar negeri yang tegas menentang Barat.
Menjadi Pemimpin Tertinggi
Pada Juni 1989, setelah wafatnya Khomeini, Majelis Ahli memilih Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi kedua Republik Islam Iran, meskipun saat itu ia belum memenuhi syarat tradisional sebagai marja-e taqlid di kalangan ulama Syiah. Amendemen konstitusi dilakukan untuk memungkinkan pengangkatannya berdasarkan keilmuan Islam dan komitmen revolusioner.
Selama 37 tahun memimpin (1989–2026), Khamenei memegang otoritas hampir mutlak sebagai panglima tertinggi angkatan bersenjata, pengawas yudikatif, serta penentu akhir kebijakan dalam dan luar negeri. Ia mengawasi pengembangan program nuklir Iran, dukungan terhadap kelompok proksi di Timur Tengah seperti Hizbullah, Hamas, dan Houthi, serta penindasan terhadap demonstrasi domestik, mulai dari Gerakan Hijau 2009 hingga protes besar-besaran pada 2019 dan 2022.
Dikenal dengan retorika anti-Amerika Serikat dan anti-Israel yang keras, Khamenei kerap menyebut Amerika sebagai “Setan Besar” dan Israel sebagai “rezim Zionis”. Kepemimpinannya menjadikan Iran sebagai kekuatan regional yang tangguh meski dihantam sanksi berat, sekaligus memperkuat kontrol teokrasi di dalam negeri.
Akhir Hidup dan Warisan
Khamenei tewas dalam serangan udara yang menyasar kompleksnya di Teheran, bagian dari operasi militer luas Amerika Serikat dan Israel yang juga menewaskan anggota keluarga, penasihat militer senior, dan sejumlah pejabat tinggi lainnya. Pemerintah Iran menyebut serangan itu sebagai “pembunuhan” oleh “AS dan rezim Zionis yang kriminal”, sembari menjanjikan balasan keras.
Kematiannya menutup era perlawanan tanpa kompromi yang membentuk Iran modern, sekaligus meninggalkan Republik Islam menghadapi pertanyaan besar mengenai suksesi, stabilitas internal, dan potensi eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang kian memanas.