Bitcoin jatuh ke level terendahnya sejak 2024, sementara pasar saham Asia mayoritas ditutup melemah pada perdagangan Jumat, seiring gelombang aksi jual besar-besaran di saham teknologi Wall Street yang menjalar ke pasar global.
Mata uang kripto terbesar di dunia itu sempat merosot di bawah level US$64.000 pada Kamis dan menyentuh titik terendah harian di US$60.062. Analis menyebut penurunan tersebut sebagai kejatuhan satu hari terburuk sejak runtuhnya bursa kripto FTX pada November 2022.
Secara keseluruhan, Bitcoin kini telah anjlok sekitar 50% dari puncaknya pada Oktober 2025, ketika harganya mendekati US$126.000.
Pasar Asia Ikut Tertekan
Di kawasan Asia, Korea Selatan menjadi pasar dengan tekanan terbesar. Indeks Kospi sempat terjun hingga 5% sebelum memangkas sebagian kerugiannya. Saham raksasa semikonduktor Samsung Electronics dan SK Hynix kembali tertekan, memperpanjang pekan buruk bagi sektor chip di tengah perubahan sentimen global terhadap saham teknologi.
Di tempat lain, Hang Seng Hong Kong turun 1,1%, sementara CSI 300 di Tiongkok daratan melemah 0,57%. Bursa Australia juga terpukul, dengan S&P/ASX 200 anjlok 1,83% menyusul pernyataan hawkish dari Reserve Bank of Australia.
Sementara itu, Nikkei 225 Jepang dibuka lebih rendah untuk sesi ketiga berturut-turut, dengan saham-saham farmasi tertekan setelah Presiden Donald Trump meluncurkan situs web baru yang menawarkan obat resep dengan harga diskon.
Saham Teknologi Picu Sentimen Risk-Off
Tekanan di Asia mengikuti kejatuhan tajam di Wall Street. Indeks Nasdaq Composite merosot 1,6% pada Kamis, mencatat penurunan dua hari terburuk sejak gejolak tarif pada April tahun lalu. S&P 500 dan Dow Jones Industrial Average masing-masing turun sekitar 1,2%.
Saham teknologi menjadi pusat tekanan setelah sejumlah raksasa teknologi mengumumkan rencana belanja besar untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI), yang justru memicu kekhawatiran investor.
Amazon anjlok tajam dalam perdagangan setelah jam bursa setelah memproyeksikan belanja modal hingga US$200 miliar pada 2026, naik 56% dari tahun sebelumnya. Alphabet, induk Google, sebelumnya juga mengungkap rencana investasi AI hingga US$185 miliar.
Gejolak pasar semakin memanas setelah perusahaan AI Anthropic meluncurkan alat otomatisasi terbaru, Claude Cowork, yang memicu kekhawatiran disrupsi besar di industri perangkat lunak. Peluncuran ini disebut telah menghapus sekitar US$300 miliar nilai pasar di sektor perangkat lunak, jasa keuangan, dan analitik data.
Bitcoin Alami Penurunan Historis
Aksi jual di pasar kripto turut menghapus seluruh keuntungan Bitcoin sejak pelantikan kedua Presiden Trump pada Januari 2025, ketika ekspektasi kebijakan pro-kripto sempat mendorong reli aset digital. Data CNBC mencatat lebih dari US$2 miliar posisi kripto dilikuidasi hanya dalam sepekan terakhir.
Tekanan semakin berat dengan derasnya arus keluar dari Bitcoin ETF, yang mencatat penarikan dana sekitar US$1,7 miliar dalam sepekan dan menyeret arus dana tahun berjalan ke wilayah negatif.
“Penurunan tajam Bitcoin mencerminkan badai sempurna—likuidasi paksa posisi long yang terlalu leveraged, arus keluar institusional, serta lingkungan makro yang semakin menghindari risiko,” kata Vincent Liu, Chief Investment Officer Kronos Research.