JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan penting bagi masyarakat Indonesia musim hujan tahun 2025 diprediksi datang lebih awal dari biasanya.
Musim penghujan dating lebih awal berpotensi memengaruhi aktivitas sehari-hari mulai dari bulan ini. Berdasarkan analisis terkini, curah hujan yang lebih intensif sudah mulai terlihat di beberapa daerah sejak Agustus lalu, dengan durasi yang meluas hingga April 2026.
Prediksi ini menjadi sorotan utama di tengah kekhawatiran dampak banjir, longsor, dan gangguan transportasi di berbagai wilayah.
Menurut data BMKG, pola cuaca ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor iklim global seperti La Niña yang mulai berkembang, meskipun intensitasnya masih moderat. Hal ini menyebabkan sebagian besar wilayah Indonesia mengalami pergeseran musim hujan yang lebih maju dibandingkan rata-rata klimatologis periode 1991-2020.
Informasi ini krusial bagi petani, nelayan, dan sektor pariwisata yang bergantung pada pola cuaca stabil, serta masyarakat umum yang perlu mempersiapkan diri menghadapi risiko bencana alam terkait hujan deras.
Prediksi Awal Musim Hujan Lebih Maju di Mayoritas Wilayah
Dalam pemantauan iklim terbaru, BMKG mencatat bahwa dari total 699 Zona Musim (ZOM) di seluruh Indonesia, sekitar 42,1% atau 294 ZOM akan memasuki musim hujan lebih cepat dari jadwal normal. Sebaliknya, hanya 7,2% ZOM sesuai dengan kondisi rata-rata, sementara 8,0% mengalami keterlambatan. Sisanya dipengaruhi variasi regional yang perlu dipantau secara ketat.
Secara spesifik, 11,3% atau 79 ZOM diproyeksikan memasuki fase musim hujan pada September 2025. Wilayah-wilayah ini mencakup sebagian besar Sumatera Utara, sebagian Riau, Sumatera Barat bagian utara, Jambi bagian barat, Bengkulu bagian utara, Bangka Belitung bagian selatan, Sumatera Selatan, sebagian kecil Jawa, Kalimantan Selatan, serta sebagian Papua Selatan. Di daerah-daerah ini, hujan sudah mulai intensif, berpotensi memicu banjir lokal dan peningkatan kelembaban udara.
Pada Oktober 2025, gelombang hujan akan meluas ke 21,3% atau 149 ZOM lainnya, termasuk sebagian Lampung, sebagian besar Pulau Jawa, Bali, sebagian Nusa Tenggara Barat, Sulawesi bagian selatan, dan Papua bagian tengah. Sementara itu, November 2025 menjadi titik masuk bagi 15% atau 105 ZOM, yang meliputi sebagian besar Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, Sulawesi bagian tengah dan utara, sebagian Maluku, sebagian Papua Barat, serta sebagian Papua.
“Dibandingkan dengan rerata klimatologis 1991–2020, awal musim hujan tahun ini cenderung maju di sebagian besar wilayah Indonesia. Musim hujan diprediksi berlangsung dari Agustus 2025 hingga April 2026, dengan puncak hujan yang bervariasi, sebagian besar terjadi pada November–Desember 2025 di Sumatera dan Kalimantan, serta Januari–Februari 2026 di Jawa, Sulawesi, Maluku, dan Papua.” kata Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati
Puncak Curah Hujan dan Dampak Potensial
Durasi musim hujan yang panjang ini—dari Agustus 2025 hingga April 2026—berarti masyarakat harus bersiap untuk periode basah yang berkepanjangan. Puncak hujan di Sumatera dan Kalimantan diperkirakan mencapai klimaks pada akhir 2025, sementara Jawa dan wilayah timur akan merasakan intensitas tertinggi di awal 2026.
Faktor ini bisa memperburuk kondisi seperti genangan air di perkotaan, longsor di daerah pegunungan, dan gangguan panen di sektor pertanian.
Dampaknya tidak hanya terbatas pada bencana alam; sektor ekonomi juga terancam. Misalnya, nelayan di pantai utara Jawa mungkin menghadapi ombak tinggi, sementara petani padi di Jawa Tengah dan Jawa Timur berisiko kehilangan hasil panen akibat genangan. Selain itu, peningkatan kasus penyakit seperti demam berdarah dengue (DBD) dan infeksi saluran pernapasan bawah (ISPA) sering menyertai musim hujan, sehingga layanan kesehatan perlu ditingkatkan.
Untuk mengantisipasi hal ini, BMKG menyarankan langkah-langkah preventif seperti memantau prakiraan cuaca harian melalui aplikasi resmi, membersihkan saluran drainase untuk mencegah banjir, dan menghindari aktivitas di daerah rawan longsor. Pemerintah daerah juga diimbau untuk mengaktifkan posko siaga bencana sejak dini.
Tips Menghadapi Musim Hujan Lebih Awal
Agar tetap aman dan produktif selama periode ini, berikut beberapa saran praktis dari BMKG:
Persiapan Rumah Tangga:
Pastikan atap rumah kedap air dan simpan barang berharga di tempat tinggi.
Transportasi:
Gunakan kendaraan dengan ban yang baik dan hindari menyeberang sungai yang meluap.
Kesehatan:
Cuci tangan secara rutin dan gunakan masker di area berdebu saat hujan reda.
Dengan pemahaman yang lebih baik tentang pola musim hujan 2025/2026, masyarakat Indonesia dapat mengurangi risiko dan memaksimalkan adaptasi. Pantau terus update dari BMKG untuk informasi terkini, karena pola cuaca bisa berubah seiring perkembangan iklim global.