Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memaparkan skenario terburuk ancaman bencana dari segmen Megathrust Aceh–Andaman. Zona subduksi aktif ini berpotensi memicu guncangan dahsyat hingga magnitudo 9,2 yang berisiko mendatangkan gelombang tsunami tinggi di pesisir barat Sumatra.
Sebagai wilayah yang berada di atas pertemuaan lempeng tektonik aktif, Indonesia saat ini dipetakan memiliki 14 segmen megathrust utama. Zona ini merupakan bidang patahan dangkal—kurang dari 50 kilometer—tempat bergeseknya lempeng bumi yang menyimpan akumulasi energi sangat besar.
Berdasarkan pemetaan BMKG, potensi magnitudo maksimum di zona-zona subduksi tersebut bervariasi, mulai dari segmen Nias–Simeulue (M8,7), Mentawai–Siberut (M8,9), Jawa (M9,1), hingga Aceh–Andaman yang mencatatkan potensi energi tertinggi mencapai M9,2.
“Skenario terburuk pada segmen Aceh–Andaman menunjukkan potensi guncangan hingga skala intensitas VIII MMI. Kondisi ini berisiko memicu kerusakan struktur bangunan secara masif serta gelombang tsunami setinggi lebih dari 3 meter, bahkan menembus 10 meter di titik pesisir tertentu,” tulis BMKG dalam unggahan resminya, Rabu (23/9/2026).
Bukan Prediksi Waktu Dekat, BMKG Tekankan Mitigasi
BMKG menegaskan bahwa pemaparan skenario ini bertujuan untuk kesiapsiagaan, bukan prediksi bahwa bencana akan melanda dalam waktu dekat. Hingga saat ini, belum ada teknologi di dunia yang mampu memprediksi waktu pasti terjadinya gempa bumi.
Guna meminimalkan dampak risiko, BMKG telah menyiagakan jaringan 533 sensor seismograf serta mengoptimalkan sistem peringatan dini Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) untuk menyebarkan informasi secara real-time.
Masyarakat diimbau untuk tidak panik dan menghindari isu spekulatif yang belum terverifikasi. Kunci utama menghadapi ancaman megathrust adalah memperkuat langkah mitigasi mandiri, seperti mematuhi standar bangunan tahan gempa, menyiapkan tas siaga bencana, serta memahami rute evakuasi keluarga.
Panduan Penyelamatan Diri Saat Gempa dan Tsunami
Masyarakat yang berada di wilayah pesisir diminta untuk peka terhadap tanda-tanda alam. Jika merasakan guncangan gempa yang kuat atau berlangsung terus-menerus selama lebih dari 30 detik:
-
Segera Menjauh: Langsung jauhi bibir pantai dan muara sungai tanpa menunggu sirene peringatan dini.
-
Cari Dataran Tinggi: Bermobilisasi menuju tempat yang lebih tinggi atau rute evakuasi yang telah ditentukan.
-
Pantau Informasi Resmi: Simak pembaruan informasi darurat melalui siaran televisi nasional, radio daerah, atau kanal resmi BMKG.
-
Evakuasi Mandiri: Jika mendengar sinyal darurat berupa sirine maupun kentongan warga, segera lari sejauh mungkin dari kawasan pantai.