JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan masyarakat atas potensi hujan lebat hingga ekstrem yang dipicu oleh empat fenomena atmosfer utama. Kondisi ini diprediksi mendominasi cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia sepanjang pekan mendatang, seiring memasuki puncak musim penghujan 2025.
Menurut prakiraan BMKG, gelombang awan hujan yang masif akan meningkatkan risiko banjir, longsor, dan gangguan aktivitas sehari-hari. Fenomena ini tidak hanya mempercepat pembentukan awan cumulonimbus—awan hujan raksasa—tetapi juga memperkuat intensitas curah hujan, terutama di wilayah barat dan tengah Indonesia.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menjelaskan bahwa peningkatan aktivitas awan hujan ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan lokal. “Jadi akibat adanya empat faktor fenomena atmosfer tadi ada MJO (Madden-Julian Oscillation), gelombang atmosfer atau gelombang ekuator Kelvin dan Rossby,” kata Dwikorita dalam konferensi pers virtual dikutip, Minggu (2/11/2025).
Ia melanjutkan bahwa selain gelombang atmosfer tersebut, dua faktor pendukung lainnya adalah fenomena lokal berupa belokan pertemuan angin (convergence) yang memadatkan udara lembab, serta peningkatan suhu permukaan laut (SSTL) yang hangat. Kombinasi ini menciptakan kondisi ideal bagi pertumbuhan awan hujan secara vertikal, sehingga memicu hujan deras yang berpotensi mencapai 100-200 mm per hari di beberapa daerah.
Untuk memahami lebih dalam, berikut penjelasan singkat masing-masing faktor penyebab hujan ekstrem berdasarkan analisis BMKG:
- MJO (Madden-Julian Oscillation): Gelombang konveksi besar yang bergerak dari Samudra Hindia ke Pasifik, membawa kelembaban tinggi dan memicu hujan intens selama 30-60 hari.
- Gelombang Ekuatorial Kelvin dan Rossby: Gelombang Kelvin mendorong angin timur ke barat dengan kecepatan tinggi, sementara Rossby menghasilkan pola angin berputar yang memperkuat konveksi di ekuator.
- Belokan Pertemuan Angin Lokal: Arus angin dari berbagai arah bertemu, memaksa udara naik dan membentuk awan hujan lokal yang cepat berkembang.
- Hangatnya Suhu Permukaan Laut: SSTL yang di atas normal meningkatkan penguapan air laut, menyediakan “bahan bakar” uap air untuk awan hujan super.
BMKG menekankan pentingnya kewaspadaan dini, terutama bagi warga di Jawa, Sumatera, dan Sulawesi yang rentan terdampak.
“Ada fenomena lokal belokan pertemuan angin serta fenomena hangatnya suhu permukaan air laut yang mengakibatkan kondisi di Indonesia dalam kondisi berawan meningkat, pertumbuhan awan hujannya meningkat, dan potensi terjadinya hujan lebat hingga ekstrem meningkat,” tambah Dwikorita.
Masyarakat disarankan memantau update prakiraan cuaca melalui aplikasi BMKG atau situs resmi untuk menghindari kerugian.