Bos tim Ducati MotoGP, Davide Tardozzi, mengungkapkan bahwa kegagalan ban yang dialami Marc Marquez pada GP Thailand adalah akibat dari pelek roda yang “meledak” setelah menghantam kerb (pinggiran lintasan).
Juara dunia bertahan itu menjalani seri pembuka musim yang sulit di Buriram. Setelah awal balapan yang lamban membuatnya terlempar dari zona podium, Marquez mulai bangkit. Saat tengah mengejar Raul Fernandez untuk memperebutkan posisi ketiga, Marquez terpaksa mundur pada lap 21 dari 26 karena apa yang awalnya tampak seperti ban bocor.
Pihak Ducati kini mengklarifikasi bahwa kebocoran tersebut disebabkan oleh benturan keras dengan kerb di Tikungan 4 yang merusak pelek roda secara fatal.
“Sayangnya, dia menghantam kerb di Tikungan 4 dan memecahkan peleknya,” ujar Tardozzi kepada TNT Sport.
“Itulah sebabnya ban kehilangan udara dan dia terpaksa berhenti. Dia menghantam bagian ujung puncak tikungan (apex) dan menghancurkan rodanya. Sejujurnya, saya tidak ingat pernah melihat hal seperti itu sebelumnya.”
Tardozzi menambahkan bahwa meski bisa dianggap sebagai kesalahan pembalap, Marquez sangat tidak beruntung. “Banyak pembalap lain yang melebar di Tikungan 4, tapi tidak ada yang mengalami masalah ini. Dia bilang dia menghantam kerb, dia tidak tahu kenapa, tapi peleknya meledak.”
Masalah Massal: Panas Ekstrem dan Material Melunak
Satu lap kemudian, pembalap Honda, Joan Mir, juga terpaksa mundur karena masalah ban belakang. Bos Michelin, Piero Taramasso, mencatat bahwa kerusakan pelek adalah fenomena yang mereka temui sepanjang akhir pekan di Buriram. Ia menyalahkan suhu panas yang ekstrem dan karakter kerb yang agresif.
“Kami menghadapi masalah ini sepanjang akhir pekan. Banyak roda yang bengkok saat dikembalikan ke tenda kami karena suhu yang sangat panas,” jelas Taramasso. “Material pelek menjadi sangat lunak, sementara kerb di sini sangat agresif. Jorge Martin juga mengalami hal serupa kemarin; dia menghantam kerb, roda depannya bengkok dan kempis.”
Ducati Masih “Gelap” soal Performa di Buriram
Selain masalah teknis roda, Ducati juga menderita krisis kecepatan. Setelah tampil apik di tes pramusim, performa Desmosedici justru merosot di balapan utama. Pembalap Ducati terbaik, Fabio Di Giannantonio, finis lebih dari 15 detik di belakang sang pemenang, Marco Bezzecchi (Aprilia).
Tardozzi mengakui bahwa motor mereka berperilaku sangat berbeda dibandingkan saat tes pramusim, dan tim masih belum memahami penyebabnya.
“Akhir pekan yang sangat sulit. Aprilia tampak berkembang pesat dan keempat pembalap mereka sangat cepat. Kami harus angkat topi untuk mereka,” tambah Tardozzi.
“Ada sesuatu yang aneh, akhir pekan ini motor terasa sangat berbeda dibandingkan saat kami melakukan tes di sini. Itu adalah sesuatu yang masih belum kami pahami.”
Dengan hasil ini, rekor luar biasa Ducati yang selalu meraih podium dalam 88 balapan berturut-turut resmi terhenti. GP Thailand 2026 menjadi balapan pertama sejak GP Inggris 2021 di mana tidak ada satu pun motor Desmosedici yang berhasil finis di posisi tiga besar.