JAKARTA — Angka perceraian di Indonesia terus menjadi sorotan dan menunjukkan tren meningkat setiap tahunnya.
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada Februari 2026 mencatat sejumlah faktor yang paling banyak memicu pasangan suami istri memutuskan untuk berpisah.
Perselisihan dan pertengkaran menempati posisi teratas dengan jumlah yang jauh melampaui faktor lainnya, yakni sebanyak 282.326 kasus.
Angka ini mencerminkan betapa banyak rumah tangga yang kandas bukan karena satu kejadian besar, melainkan karena konflik yang terus berulang dan tak kunjung menemukan titik temu.
Di posisi kedua, faktor ekonomi menjadi penyebab perceraian terbesar berikutnya dengan 105.727 kasus.
Tekanan finansial kerap menjadi beban yang mengikis keharmonisan pasangan, terutama ketika kebutuhan sehari-hari sulit terpenuhi.
Selain dua faktor dominan tersebut, BPS juga mencatat sejumlah penyebab lain perceraian yang turut menyumbang angka perceraian.
Sebanyak 31.029 kasus dipicu oleh tindakan meninggalkan salah satu pihak, sementara kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) tercatat dalam 7.138 kasus.
Kebiasaan berjudi dan mabuk masing-masing menyumbang 4.623 dan 2.033 kasus.
Faktor-faktor lain seperti hukuman penjara (1.390 kasus), zina (1.147 kasus), serta persoalan poligami (959 kasus) juga turut tercatat, meski dengan jumlah yang lebih kecil.
Tips Agar Hubungan Pernikahan Terhindari dari Perceraian
Di balik angka-angka tersebut, para ahli mengingatkan bahwa banyak persoalan rumah tangga sejatinya dapat dicegah sejak dini sehingga terhindar dari terjadinya perceraian.
Dilansir dari Halodoc, berikut sejumlah tips psikologi yang dapat membantu pasangan menjaga keharmonisan pernikahan.
1. Bangun komunikasi yang terbuka dan saling menghargai
Komunikasi yang sehat bukan sekadar berbicara, tetapi juga tentang kemampuan mendengarkan.
Pasangan perlu belajar menyampaikan perasaan secara jujur tanpa menjatuhkan satu sama lain.
Saat terjadi ketegangan, hindari serangan pribadi dan pilih kata-kata yang lembut untuk menemukan jalan keluar bersama.
2. Latih empati untuk memahami pasangan lebih dalam
Berusaha melihat situasi dari sudut pandang pasangan dapat mempererat hubungan secara emosional.
Ketika seseorang merasa dipahami, kepercayaan pun tumbuh lebih kuat.
Empati juga menjadi bekal penting dalam menghadapi perbedaan pendapat tanpa harus saling melukai.
3. Jaga kepercayaan dengan sikap jujur dan konsisten
Kepercayaan adalah fondasi yang menopang seluruh bangunan pernikahan.
Menjaga komitmen, bersikap terbuka, dan tidak menyembunyikan hal-hal penting dari pasangan adalah langkah nyata untuk merawat kepercayaan itu.
Berikan pula ruang bagi pasangan untuk membuktikan diri sebagai mitra yang dapat diandalkan.
4. Hadapi konflik dengan kepala dingin dan pikiran terbuka
Perselisihan dalam rumah tangga adalah hal yang wajar dan tak selalu bisa dihindari.
Yang terpenting adalah bagaimana cara menghadapinya.
Usahakan untuk tetap tenang, berbicara dengan santun, dan mencari solusi yang adil bagi kedua pihak.
Bila konflik terasa sulit dikelola sendiri, bantuan konselor atau terapis pernikahan bisa menjadi pilihan yang bijak.
5. Ciptakan momen kebahagiaan yang bermakna bersama
Keintiman dan kegembiraan perlu terus dijaga agar pernikahan tidak terasa monoton.
Luangkan waktu untuk melakukan hal-hal yang disukai bersama, entah itu perjalanan singkat, aktivitas ringan yang menyenangkan, atau sekadar merayakan pencapaian kecil satu sama lain.
Momen-momen sederhana seperti inilah yang kerap menjadi perekat hubungan dalam jangka panjang.
Data ini menjadi pengingat bahwa pernikahan yang langgeng bukan sekadar soal bertahan, melainkan soal terus bertumbuh bersama di tengah segala tantangan.***