JAKARTA – Kementerian Pertahanan Republik Indonesia resmi menyepakati pengadaan sistem rudal BrahMos dari India. Kesepakatan ini dinilai menjadi tonggak penting dalam upaya modernisasi kekuatan pertahanan, khususnya di sektor maritim.
Juru Bicara Kementerian Pertahanan Indonesia, Rico Ricardo Sirait, membenarkan hal tersebut. “Indonesia telah mencapai kesepakatan dengan India untuk pengadaan sistem rudal BrahMos,” ujarnya kepada Reuters, dikutip dari India Today, Selasa (10/3/2026).
Menurut Rico, pengadaan itu merupakan bagian dari program modernisasi perangkat keras militer dan peningkatan kemampuan pertahanan, terutama di sektor maritim.
Dilansir dari Okezone, BrahMos sendiri merupakan rudal jelajah supersonik hasil pengembangan bersama India dan Rusia. Namanya diambil dari dua sungai besar, yakni Sungai Brahmaputra di India dan Sungai Moskwa di Rusia. Rudal ini dikembangkan oleh BrahMos Aerospace, perusahaan patungan yang didirikan pada 1998 antara Organisasi Penelitian dan Pengembangan Pertahanan India dan perusahaan Rusia, Mashinostroyeniye.
Secara teknis, sistem rudal ini dikembangkan berdasarkan rudal Rusia SS-N-26 atau yang dikenal dengan sebutan 3M55 Oniks/Yakhont/Bastion. Rudal ini dirancang sebagai senjata serbaguna yang mampu menghantam target di darat maupun di laut dengan tingkat presisi tinggi.
Salah satu keunggulan utama BrahMos PJ-10 terletak pada kecepatan supersoniknya yang berkisar antara Mach 2,0 hingga Mach 2,8, bergantung pada ketinggian jelajah. Dikombinasikan dengan teknologi siluman, kecepatan tersebut membuat rudal ini sulit dihadang sistem pertahanan udara sekaligus meningkatkan daya hancurnya.
Untuk sistem pemandu, rudal ini mengandalkan sistem navigasi inersia (INS) guna membidik target maritim. Adapun untuk target darat, digunakan kombinasi INS dan GPS, dengan sistem radar aktif/pasif sebagai pemandu akhir demi memastikan akurasi yang tinggi.
BrahMos memiliki jangkauan antara 300 hingga 500 kilometer, bergantung pada platform peluncurannya. Rudal ini dapat diluncurkan dari berbagai platform, mulai dari darat, udara, laut, hingga bawah air. Versi darat dan laut memiliki panjang 8,2 meter dengan muatan seberat 300 kilogram dan bobot peluncuran mencapai 3.000 kilogram.