Sebanyak 13 orang tewas dalam kebakaran besar yang melanda sejumlah gedung apartemen bertingkat tinggi di sebuah kompleks perumahan di Hong Kong pada Rabu (26/11/2025), menurut keterangan Dinas Pemadam Kebakaran setempat.
“Total terdapat 28 korban. Sembilan di antaranya meninggal di lokasi kejadian. Enam korban dalam kondisi kritis dilarikan ke rumah sakit, dan empat di antaranya kemudian meninggal,” ujar pejabat Dinas Pemadam Kebakaran, Chou Wing-yin, dalam konferensi pers sekitar pukul 20.15 waktu setempat.
Korban tewas termasuk seorang petugas pemadam kebakaran, sementara seorang lainnya dirawat karena kelelahan akibat panas. Sekitar 700 warga berhasil dievakuasi ke tempat penampungan sementara.
Kebakaran hebat tersebut menyemburkan kobaran api tinggi dan asap pekat, menyebar cepat melalui perancah bambu dan jaring konstruksi yang terpasang di bagian luar gedung yang sedang dalam proses renovasi.

Para petugas pemadam terus berjuang memadamkan api hingga malam hari, sementara asap hitam tebal membubung dari menara apartemen setinggi 31 lantai yang menampung hampir 2.000 unit hunian.
Catatan resmi menunjukkan kompleks Wang Fuk Court terdiri dari delapan blok apartemen dengan sekitar 4.800 penghuni.
Pihak kepolisian menerima banyak laporan warga yang terjebak di dalam gedung, namun belum dapat memastikan jumlahnya.
Seorang petugas di lokasi mengatakan kepada AFP bahwa tim penyelamat tidak dapat memasuki gedung karena kondisi api yang ekstrem.
Anggota Dewan Distrik Taipo, Lo Hiu-fung, mengatakan kepada TVB bahwa sebagian besar warga yang terjebak diduga berusia lanjut.
Warga terlihat berkerumun di jembatan penyeberangan dekat lokasi kejadian, menyaksikan asap tebal menyelimuti gedung-gedung yang dikerumuni mobil pemadam dan ambulans.
Kebakaran terjadi di Wang Fuk Court, salah satu kawasan hunian bertingkat yang padat penduduk di distrik Tai Po, wilayah pinggiran Hong Kong yang berpopulasi sekitar 300.000 orang. Kompleks ini merupakan hunian subsidi pemerintah dan telah dihuni sejak tahun 1983.
Hong Kong merupakan salah satu dari sedikit wilayah di dunia yang masih menggunakan perancah bambu secara luas untuk konstruksi. Pemerintah sebelumnya telah mengumumkan rencana untuk mulai menghentikan penggunaannya untuk proyek publik karena alasan keselamatan.
