Presiden Brasil, Luiz Inácio Lula da Silva, menegaskan bahwa BRICS merupakan perwujudan nyata dari semangat Konferensi Asia-Afrika atau Konferensi Bandung — yang menolak dominasi kekuatan besar dunia.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam pidato pembukaan sesi pertama Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-17 yang digelar di Museum Seni Modern, Rio de Janeiro, pada Minggu, 7 Juli 2025.
Lula menyampaikan keprihatinannya atas kondisi dunia saat ini yang menurutnya sedang menghadapi krisis multilateralisme. Ia menilai, sistem internasional yang seharusnya menjunjung keadilan dan kesetaraan antarnegara kini terancam oleh kepentingan segelintir kekuatan global.
Ia juga menyoroti bahwa mayoritas anggota BRICS saat ini — seperti Tiongkok, Rusia, India, dan Brasil — adalah pendiri Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), lembaga yang dibentuk untuk memantine perdamaian dunia pasca-Perang Dunia II.
Menurut Lula, semangat pendirian PBB dan Konferensi Bandung memiliki benang merah: menolak fasisme, menjunjung kedaulatan, dan memperjuangkan tatanan dunia yang adil dan seimbang. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa BRICS adalah kelanjutan dari semangat perjuangan negara-negara berkembang.
Pidato Lula menjadi pengingat kuat bagi para pemimpin dunia bahwa kebersamaan negara-negara Selatan Global adalah kunci menuju masa depan yang lebih setara dan berkelanjutan.
Admin | Caption: Raihana