JAKARTA – Aliansi BRICS (Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan) semakin gencar mengurangi dominasi dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan global. Data terbaru menunjukkan, lebih dari 50% transaksi lintas negara anggota BRICS kini menggunakan mata uang lokal, dengan yuan China memimpin sebagai alternatif utama.
Langkah ini menjadi pukulan telak bagi hegemoni dolar AS, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi global.
Menurut laporan WatcherGuru, tren dedolarisasi ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik dan sanksi Barat terhadap beberapa negara anggota BRICS, seperti Rusia.
“Saya sudah merasa bahwa hal ini sudah disalip karena negara-negara tersebut sangat senang melakukan perdagangan dalam mata uang mereka sendiri,” ujar Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri BRICS, Sameep Shastri, dikutip dari WatcherGuru.
Shastri menjelaskan, penggunaan mata uang lokal seperti rubel Rusia atau rupee India menghilangkan biaya tambahan akibat konversi dolar. “Ketika Anda melihat pada tingkat mikro yang sangat sederhana, saya membeli produk X dari Rusia, membayar dengan nilai tukar dolar di India, dan kemudian memberikan layanan kembali, membayar dengan nilai tukar dolar.
Jadi ada biaya tambahan di belakangnya, yang sekarang dihilangkan ketika saya langsung membayar dengan Rubel atau Rupee,” tambahnya.
Yuan China Mendominasi, Dolar AS Tertekan
Data terkini memperlihatkan yuan China kini menjadi mata uang utama dalam transaksi BRICS, menggeser dolar AS yang hanya digunakan dalam 42,8% perdagangan China pada Maret 2024. Sebaliknya, yuan mencatatkan porsi 52,9%, menandakan perubahan signifikan dalam dinamika keuangan global. Pada 2010, 84% perdagangan China masih bergantung pada dolar AS, sementara yuan hanya menyumbang 0,3%. Kini, keadaan telah berbalik, menunjukkan keberhasilan strategi dedolarisasi BRICS.
Langkah ini juga didukung oleh inisiatif China untuk memperluas penggunaan yuan di pasar global. Pada KTT SCO 2025, China mengusulkan platform perdagangan digital untuk mendorong transaksi tanpa dolar AS, sebuah langkah yang berpotensi mempercepat dedolarisasi. Negara-negara seperti Rusia, Arab Saudi, Argentina, dan Brasil juga mulai beralih ke yuan untuk transaksi minyak, gas, dan perdagangan bilateral.
Implikasi Global dan Tantangan Dedolarisasi
Meski dedolarisasi menawarkan peluang untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS, tantangan tetap ada. Sejumlah negara, seperti Nigeria, masih enggan menggunakan mata uang lokal untuk transaksi minyak karena risiko fluktuasi nilai tukar yang dapat memengaruhi cadangan devisa. Selain itu, Brasil baru-baru ini membatalkan rencana mata uang bersama BRICS, memilih fokus pada penyelesaian perdagangan dalam mata uang lokal masing-masing.
Namun, dorongan dedolarisasi terus menguat. Rusia, misalnya, menggunakan yuan untuk 90% transaksi bilateral dengan India, sementara China mencatatkan perdagangan senilai Rp13.912 triliun dengan anggota BRICS pada paruh pertama 2025. Jika tren ini berlanjut, cadangan devisa global dalam dolar AS diproyeksikan turun di bawah 50% dalam beberapa dekade, memicu kekhawatiran akan dampak ekonomi bagi AS, termasuk potensi hiperinflasi dan gejolak pasar saham.
Masa Depan Keuangan Global
Langkah BRICS ini tidak hanya mengubah lanskap perdagangan internasional, tetapi juga memperkuat kedaulatan ekonomi negara-negara berkembang. Dengan mendorong penggunaan mata uang lokal, BRICS berupaya meminimalkan risiko sanksi Barat dan mempercepat diversifikasi ekonomi. Indonesia sendiri telah mulai menggunakan rupiah dan yuan dalam transaksi bilateral dengan China sejak 2021, menunjukkan potensi pergeseran serupa di ASEAN.
Di tengah ancaman tarif impor tinggi dari AS, seperti yang disuarakan Presiden Donald Trump, BRICS tetap teguh memajukan agenda dedolarisasi. Dengan sistem pembayaran berbasis blockchain yang diantisipasi pada KTT BRICS 2024, aliansi ini berpotensi menciptakan alternatif baru yang dapat mengguncang dominasi dolar AS sebagai mata uang cadangan dunia.