Buku memoar Broken Strings karya aktris Aurelie Moeremans, yang dirilis pada akhir 2025, telah menjadi sensasi di kalangan pembaca Indonesia. Buku ini menceritakan pengalaman pribadi Aurelie sebagai korban child grooming, pernikahan paksa, dan dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di masa remajanya, tanpa menyebut nama pelaku secara langsung.
Namun, yang membuatnya viral bukan hanya isinya yang menggugah, tapi ramainya pengakuan pembaca di media sosial seperti Instagram, TikTok, dan X (Twitter) yang mengaku menangis tersedu-sedu hingga merasa “mentally drained” atau lelah mental setelah membacanya.
Fenomena ini menjadi perbincangan luas, bahkan dibahas oleh psikolog. Mengapa hal ini bisa terjadi? Mari kita telusuri berdasarkan analisis dari sumber kesehatan dan reaksi netizen.
Isi Buku yang Mengaduk Emosi
Broken Strings bukan sekadar memoar selebriti biasa, buku ini menyelami pengalaman traumatis Aurelie sejak usia 16 tahun, termasuk hubungan toksik dengan pria lebih tua yang berujung pada pernikahan diam-diam tanpa restu keluarga, serta elemen KDRT seperti dijambak dan diludahi.
Aurelie menulisnya dengan bahasa yang raw, jujur, dan mendalam, menggabungkan cerita pribadi dengan pesan tentang pentingnya kesehatan mental, relasi sehat, dan pemulihan dari trauma. Banyak pembaca merasa seperti sedang membaca diary pribadi, yang membuat emosi terlibat secara intens—dari empati hingga rasa marah atas ketidakadilan yang dialami Aurelie.
Banyak pembaca mengaku buku ini “triggering” karena mengingatkan trauma pribadi, seperti pengalaman hubungan abusif atau tekanan keluarga. Seorang netizen di Instagram berkomentar, “Aku nangis karena relate, tapi juga merasa empowered setelahnya.”
Fenomena ini mirip dengan efek buku-buku seperti Educated oleh Tara Westover atau Know My Name oleh Chanel Miller, di mana cerita nyata trauma memicu respons emosional kolektif.
Mengapa Pembaca Bisa Menangis dan Merasa Mentally Drained?
Menurut psikolog seperti yang dikutip CNN Indonesia dan detikHealth, reaksi ini terjadi karena efek catharsis emosional—proses pelepasan emosi terpendam melalui cerita orang lain. Buku Broken Strings memicu empati mendalam, di mana pembaca “merasa” sakitnya Aurelie, terutama jika mereka punya pengalaman serupa.
Psikolog menjelaskan bahwa membaca cerita trauma bisa mengaktifkan sistem saraf simpatik, menyebabkan respon fisik seperti menangis (pelepasan endorfin) atau kelelahan mental (mental drain) karena otak memproses emosi berat.
Faktor lain termasuk:
- Trigger Trauma: Bagi penyintas kekerasan atau grooming, buku ini bisa membangkitkan memori lama, menyebabkan distress emosional sementara.
- Identifikasi Diri: Cerita Aurelie yang relatable—sebagai remaja di dunia entertainment—membuat pembaca muda merasa “ini bisa terjadi pada siapa saja,” sehingga menimbulkan rasa takut atau sedih kolektif.
- Efek Sosial Media: Amplifikasi di medsos membuat reaksi ini menyebar seperti virus; melihat orang lain menangis memicu FOMO (fear of missing out) emosional, di mana pembaca merasa perlu “merasakan” hal yang sama.
- Kurangnya Persiapan Mental: Psikolog menyarankan membaca dengan jeda, bukan maraton, untuk menghindari overload emosi. Jika drained berlanjut, disarankan konsultasi profesional.
Studi tentang efek membaca memoir trauma, seperti dari jurnal psikologi, menunjukkan bahwa meski draining, proses ini bisa terapeutik—membantu pembaca memproses emosi sendiri dan mendorong kesadaran tentang kesehatan mental.