Pasar saham dan mata uang Asia ditutup melemah pada perdagangan Jumat, 6 Februari 2026, dengan Korea Selatan menjadi pasar yang paling terpukul seiring investor ramai-ramai melepas saham teknologi. Indeks Kospi anjlok sekitar 1,7 persen, sementara won Korea Selatan melemah ke level 1.470,60 per dolar AS—posisi terendah dalam lebih dari dua pekan terakhir.
Tekanan di Korea Selatan turut menyeret kinerja kawasan. Indeks MSCI saham emerging market Asia turun 0,5 persen, sementara indeks saham Asia yang lebih luas di luar Jepang merosot hampir 2 persen, mencerminkan meluasnya sentimen negatif di pasar regional.
Aksi Jual Saham Teknologi Menyebar
Pelemahan pasar Asia berakar dari memburuknya sentimen terhadap saham teknologi global. Di Seoul, saham raksasa semikonduktor Samsung Electronics dan SK Hynix melemah tajam, membuat indeks sektor teknologi regional terkoreksi sekitar 2,4 persen.
Aksi jual ini dipicu oleh kejatuhan saham Advanced Micro Devices (AMD) di Wall Street yang anjlok hingga 17 persen setelah perusahaan merilis prospek kinerja yang berada di bawah ekspektasi pasar.
Tekanan berlanjut setelah Alphabet—induk Google—turun hingga 6 persen dalam perdagangan setelah jam bursa, menyusul pengumuman belanja modal 2026 yang diperkirakan mencapai 175–185 miliar dolar AS, jauh melampaui proyeksi analis dan lebih dari dua kali lipat belanja tahun 2025.
Kekhawatiran pasar juga meningkat setelah Anthropic meluncurkan fitur legal baru untuk chatbot Claude, yang memicu spekulasi akan terjadinya disrupsi besar di sektor teknologi informasi dan layanan perangkat lunak.
“Ketika sektor teknologi AS bergejolak, sentimen negatif cenderung cepat menyebar ke pasar teknologi Asia, terutama setelah reli kuat yang membuat posisi investor terasa terlalu padat,” ujar analis pasar eToro, Zavier Wong.
Indonesia Terpukul Ganda
Indonesia menjadi pasar Asia Tenggara yang paling terdampak tekanan global tersebut. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok lebih dari 2 persen pada awal perdagangan, sementara rupiah melemah ke level 16.885 per dolar AS—terendah sejak 22 Januari.
Tekanan domestik kian bertambah setelah Moody’s menurunkan prospek peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif pada Kamis. Lembaga pemeringkat tersebut menyoroti menurunnya prediktabilitas kebijakan di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Langkah Moody’s ini menyusul peringatan dari MSCI terkait isu transparansi, yang sebelumnya telah memicu aksi jual aset Indonesia senilai lebih dari 80 miliar dolar AS.
Di kawasan Asia lainnya, pergerakan pasar relatif beragam. Bursa Malaysia, Filipina, dan Taiwan cenderung stabil. Saham Singapura turun sekitar 0,7 persen, sementara indeks SET Thailand justru menguat 0,5 persen. Thailand dan Jepang dijadwalkan menggelar pemilihan umum pada Minggu, 8 Februari, yang turut menjadi perhatian investor.