JAKARTA – Gelombang protes dahsyat melanda Italia saat ratusan ribu buruh turun ke jalan, melumpuhkan aktivitas nasional melalui mogok massal.
Aksi solidaritas untuk rakyat Gaza ini meletus di tengah ketegangan global, tepat setelah Israel menghadang armada kapal kemanusiaan Global Sumud Flotilla yang berupaya menembus blokade laut Gaza.
Demonstrasi berlangsung meriah di berbagai kota besar pada Jumat (3/10/2025), menandai puncak kemarahan warga Italia terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap abai.
Menurut Kementerian Dalam Negeri Italia, setidaknya 400.000 demonstran memadati 29 lokasi di seluruh negeri, termasuk pusat-pusat ekonomi seperti Roma, Milano, dan Napoli.
Namun, serikat buruh mengklaim angka itu empat kali lipat lebih besar, mencapai sekitar 1,6 juta peserta. Mogok ini bukan hanya seruan kemanusiaan, tapi juga kritik pedas terhadap Kabinet Perdana Menteri Giorgia Meloni, yang dituding terlalu lunak dalam merespons krisis kemanusiaan di Gaza.
Latar Belakang yang Memanaskan Situasi
Konflik memuncak ketika Israel mencegat armada Global Sumud Flotilla, inisiatif internasional yang membawa bantuan medis, makanan, dan obat-obatan untuk warga Gaza yang terkepung. Upaya penembusan blokade laut ini gagal total, memicu reaksi berantai di Eropa. Di Italia, serikat buruh seperti CGIL dan UIL memimpin aksi, menggabungkan tuntutan hak pekerja dengan solidaritas global. Protes ini mengganggu transportasi, industri, dan layanan publik, menciptakan lumpur ekonomi sementara yang sulit diabaikan pemerintah.
Suara dari Lapangan: Kritik Tajam terhadap Pemerintah
Di Roma, ribuan buruh mendirikan tenda sementara di depan Stasiun Kereta Termini, lengkap dengan spanduk bertuliskan “Piazza Gaza” sebagai simbol perlawanan. Francesca, seorang dosen yang ikut mogok, menyuarakan kekecewaan mendalam.
“Pemerintah, terutama (pemerintah) Italia, tidak mengambil tindakan terhadap apa yang terjadi di Gaza,” ujar Francesca, seperti dilaporkan BBC. Ia menambahkan, “Kami di sini untuk menyampaikan bahwa sudah waktunya untuk turun tangan dan menyelesaikan masalah.”
Sentimen serupa bergema di Milano dan Napoli, di mana demonstran membawa poster berisi tuntutan boikot produk Israel serta pemanggilan duta besar. Para aktivis menekankan bahwa aksi ini bukan sekadar solidaritas, melainkan panggilan moral untuk menghentikan eskalasi kekerasan di Timur Tengah.
Dampak dan Respons Pemerintah
Mogok nasional ini diprediksi merugikan ekonomi Italia hingga miliaran euro, dengan kereta api terhenti, pabrik tutup, dan sekolah libur. Pemerintah Meloni, yang dikenal condong ke kanan, menghadapi tekanan berat. Seorang juru bicara kementerian menyatakan, “Kami menghormati hak berekspresi, tapi stabilitas nasional harus dijaga.”
Sementara itu, serikat buruh menjanjikan aksi lanjutan jika tuntutan termasuk sanksi terhadap Israel—tidak digubris.
Aksi ini menambah panas iklim politik Eropa, di mana dukungan untuk Palestina semakin menguat di kalangan kelas pekerja.
Bagi warga Gaza, gelombang solidaritas dari Italia menjadi sinyal harapan di tengah blokade yang telah menewaskan puluhan ribu jiwa sejak eskalasi terbaru.