CINCINNATI — Peluang Elena Rybakina merebut posisi nomor satu dunia terhenti dramatis setelah cedera memaksanya mundur dari Cincinnati Open, Sabtu (22/8/2026) pagi WIB.
Petenis Kazakhstan itu sejatinya memiliki kesempatan emas setelah Aryna Sabalenka tersingkir secara mengejutkan dari babak 16 besar.
Kekalahan Sabalenka membuka jalan bagi Rybakina untuk merebut puncak peringkat WTA untuk pertama kalinya dalam kariernya.
Rybakina membutuhkan dua kemenangan tambahan di Cincinnati untuk menggusur Sabalenka dari posisi teratas.
Namun, harapan tersebut runtuh ketika Rybakina menghadapi Iga Swiatek pada perempat final Cincinnati Open.
Mengutip laporan Tennis World, Sabtu (22/8/2026), saat Swiatek unggul 4-1 pada set pertama, Rybakina mengalami masalah pada pergelangan kaki kirinya dan meminta perawatan medis.
Ia sempat kembali ke lapangan, tetapi hanya mampu mencoba satu servis sebelum akhirnya memutuskan menghentikan pertandingan.
Cedera tersebut membuat Rybakina kehilangan kesempatan memperkecil jarak dengan Sabalenka di puncak peringkat dunia.
Dalam peringkat langsung, Sabalenka masih berada di posisi pertama dengan 8.575 poin, sedangkan Rybakina mengoleksi 8.141 poin.
Dengan demikian, Rybakina masih tertinggal 434 poin dari petenis Belarus tersebut dalam persaingan menuju posisi nomor satu dunia.
Kegagalan di Cincinnati menjadi pukulan lain bagi Rybakina yang sebelumnya juga memiliki peluang serupa pada French Open dan Wimbledon.
Setelah pertandingan, Rybakina mengungkapkan kondisi fisiknya belum membaik dan berjalan saja terasa menyakitkan.
“Tentu saja saya merasa tidak dalam kondisi terbaik, bahkan saya tidak bisa menekan kaki saat melakukan servis.”
“Berjalan terasa sakit, dan kami akan mengetahui lebih banyak setelah pemeriksaan MRI.”
Rybakina juga mengatakan masalah tersebut sebenarnya sudah mengganggunya dalam waktu cukup lama sebelum kondisinya memburuk di Cincinnati.
“Masalah ini sudah mengganggu saya cukup lama, tetapi sebelumnya masih bisa saya kendalikan.”
Padatnya pertandingan di Kanada dan Cincinnati kemudian membuat keluhan tersebut semakin terasa sebelum akhirnya diperparah satu gerakan yang keliru.
“Saya memainkan banyak pertandingan di Kanada, lalu dua laga beruntun di sini, dan mulai semakin merasakannya.”
“Sebelum pertandingan saya merasa baik, tetapi satu gerakan yang salah dan satu pendaratan membuat sesuatu terjadi.”
Rybakina selanjutnya dijadwalkan menjalani pemeriksaan MRI untuk mengetahui tingkat keparahan cedera pergelangan kaki kirinya.
Hasil pemeriksaan tersebut menjadi sangat penting karena US Open dijadwalkan berlangsung mulai 30 Agustus 2026.
Jika mampu tampil di New York, Rybakina kembali memiliki peluang besar mengejar posisi nomor satu dunia karena beban poin pertahanannya jauh lebih kecil.
Sabalenka harus mempertahankan 2.000 poin setelah menjadi juara US Open tahun lalu, sedangkan Rybakina hanya mempertahankan 240 poin.
Perbedaan tersebut membuat Rybakina berpeluang memangkas jarak secara signifikan apabila kondisi fisiknya memungkinkan tampil di Grand Slam terakhir musim ini.
Namun, hingga kini fokus utama Rybakina adalah memastikan tingkat cedera sebelum menentukan langkah selanjutnya menuju US Open.
Rybakina telah mengakhiri perjalanan di Cincinnati setelah mundur pada perempat final dan kini menunggu hasil MRI untuk memastikan kondisi pergelangan kaki kirinya.
Belum ada kepastian mengenai tingkat cedera maupun kesiapan Rybakina tampil di US Open, sehingga peluangnya mengejar posisi nomor satu masih bergantung pada kondisi fisiknya.***





