Otoritas Tiongkok mendadak menghentikan sekitar selusin konser yang menampilkan musisi Jepang di berbagai kota besar pekan ini. Langkah itu menandai melebarnya ketegangan diplomatik ke ranah budaya, menyusul pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi yang menyebut Tokyo dapat merespons secara militer bila Tiongkok menyerang Taiwan.
Insiden pertama terjadi pada Kamis sore di sebuah venue di Beijing, ketika polisi berpakaian preman muncul saat pemain bass jazz legendaris berusia 80 tahun, Yoshio Suzuki, tengah melakukan sound check dengan kuintetnya.
“Kurang dari satu menit setelah polisi datang, pemilik venue menghampiri saya dan mengatakan bahwa semua konser yang menampilkan musisi Jepang dibatalkan—tanpa ruang diskusi,” ujar Christian Petersen-Clausen, promotor asal Norwegia yang berbasis di Tiongkok, kepada Reuters.
Pembatalan serupa juga dialami penyanyi KOKIA pada Rabu malam di Beijing, hingga memicu kemarahan penggemar yang meneriakkan “Kembalikan uang kami!” di luar venue. Tur rapper Jepang KID FRESINO di Tiongkok pun ditunda tanpa batas waktu pada Jumat.
Pembalasan atas Pernyataan soal Taiwan
Gelombang pembatalan ini terjadi setelah komentar Takaichi pada 7 November yang menyebut bahwa aksi militer Tiongkok terhadap Taiwan yang mengancam “kelangsungan hidup Jepang” dapat memicu respons militer dari Tokyo. Beijing bereaksi keras, memperingatkan kemungkinan “tindakan balasan serius” dan menuntut Takaichi menarik ucapannya. Ia menolak, menegaskan bahwa kebijakan Jepang tidak berubah.
Setelah itu, otoritas Tiongkok memperingatkan venue di seluruh negeri bahwa konser berisi artis Jepang hingga akhir tahun kemungkinan besar dibatalkan. Mereka juga menginstruksikan agar tidak ada pengajuan baru untuk konser artis Jepang pada 2026. Promotor bahkan dilarang melakukan pemasaran terkait artis Jepang. Kementerian Luar Negeri Tiongkok belum memberikan komentar resmi.
Dampak Ekonomi Mulai Terasa
Tindakan ini mengingatkan pada respons Tiongkok terhadap penempatan sistem pertahanan rudal THAAD Korea Selatan pada 2016, ketika konser K-pop besar diblokir selama bertahun-tahun.
Kini, pembatasan budaya terhadap Jepang meluas:
-
Tiongkok menerbitkan peringatan perjalanan ke Jepang,
-
menghentikan impor makanan laut,
-
menunda perilisan film-film Jepang,
-
dan maskapai pelayaran mengalihkan rute agar tidak singgah di pelabuhan Jepang.
Adora Magic City, misalnya, memperpanjang durasi persinggahannya di Jeju dari 9 jam menjadi 31–57 jam untuk menghindari Jepang.
Dampak ekonomi mulai terlihat. East Japan International Travel Service melaporkan adanya penurunan 80% pemesanan perjalanan dari Tiongkok untuk sisa tahun ini. Nomura Research Institute memprediksi bahwa boikot pariwisata dapat merugikan Jepang hingga ¥1,49 triliun (US$9,59 miliar) jika jumlah turis Tiongkok turun 25% tahun depan.
