JAKARTA – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini tidak hanya dimanfaatkan untuk kebutuhan kerja dan pendidikan, tetapi juga menjadi tempat “curhat” bagi sebagian masyarakat. Beragam aplikasi berbasis AI menawarkan fitur percakapan yang diklaim mampu menemani, mendengarkan, hingga memberikan respons layaknya teman diskusi.
Fenomena curhat dengan AI ini cukup populer, terutama di kalangan anak muda dan masyarakat urban yang akrab dengan teknologi. Meski menawarkan kemudahan dan akses cepat, para ahli mengingatkan bahwa curhat dengan AI juga memiliki sejumlah kekurangan yang perlu disadari. Berikut lima kekurangan yang perlu menjadi perhatian.
1. Risiko Keamanan Data dan Privasi
Tidak semua platform AI memiliki sistem keamanan data yang kuat. Informasi pribadi, termasuk cerita sensitif dan kondisi psikologis pengguna, berpotensi bocor atau disalahgunakan jika pengelolaan data tidak dilakukan secara aman dan transparan.
2. Tidak Mampu Memberikan Diagnosis atau Terapi
Curhat dengan AI tidak bisa disamakan dengan konsultasi profesional. AI tidak memiliki kewenangan maupun kapasitas untuk memberikan diagnosis gangguan mental atau terapi yang tepat. Mengandalkan AI untuk masalah kesehatan mental berisiko menyesatkan jika pengguna menganggap saran AI sebagai pengganti tenaga medis atau psikolog.
3. Respons Cenderung Datar dan Kurang Empatik
Meski dirancang menggunakan bahasa yang terdengar ramah, respons AI kerap terasa datar dan mekanis. Berbeda dengan manusia yang mampu menunjukkan empati melalui intonasi, ekspresi, dan emosi, AI hanya menyusun jawaban berdasarkan algoritma. Dalam kondisi emosional tertentu, hal ini dapat membuat pengguna merasa tidak benar-benar dipahami.
4. Berpotensi Menunda Proses Penyembuhan
Ketergantungan berlebihan pada AI sebagai tempat curhat dapat menunda proses penyembuhan gangguan mental. Pengguna mungkin merasa cukup “didengarkan” oleh AI, sehingga enggan mencari bantuan profesional atau berbagi dengan orang terdekat yang sebenarnya lebih mampu memberikan dukungan nyata.
5. Tidak Memahami Konteks Emosional Secara Mendalam
Salah satu kelemahan utama AI adalah keterbatasannya dalam memahami konteks emosional dan latar belakang pengguna secara utuh. AI bekerja berdasarkan data dan pola bahasa, bukan pengalaman hidup atau empati manusia. Akibatnya, respons yang diberikan sering kali tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi psikologis pengguna yang kompleks dan berlapis.
Curhat dengan AI dapat menjadi alternatif sementara untuk meluapkan perasaan, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya sandaran. Kesadaran akan keterbatasan AI penting agar masyarakat tetap bijak, terutama dalam menjaga kesehatan mental dan keamanan privasi di era digital.