Gelombang Work From Home (WFH) kembali melanda dunia, namun kali ini bukan karena pandemi. Di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang melambungkan harga minyak mentah dunia hingga di atas USD 100 per barel, sejumlah negara—termasuk Indonesia—mengambil langkah drastis: menarik karyawan dari jalanan demi menghemat energi.
Indonesia: Target Hemat Rp 6,2 Triliun
Pemerintah Indonesia resmi menetapkan skema WFH satu hari dalam sepekan bagi ASN, yang diputuskan jatuh pada setiap hari Jumat. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa langkah ini bukan sekadar adaptasi pola kerja pasca-COVID, melainkan strategi ekonomi makro.
“Potensi penghematan langsung ke APBN mencapai Rp 6,2 triliun berupa penghematan kompensasi BBM,” ujar Airlangga.
Bagi sektor swasta, kebijakan ini bersifat imbauan yang fleksibel, menyesuaikan karakteristik kebutuhan masing-masing perusahaan.
Tren Global: Dari Asia hingga Afrika Utara
Indonesia tidak sendirian. Berikut adalah bagaimana negara-negara lain merespons krisis energi akibat perang AS-Israel dengan Iran:
-
Pakistan (Darurat 50% WFH): Perdana Menteri Shehbaz Sharif menginstruksikan separuh pekerjanya untuk WFH sejak Maret. Hal ini dipicu kenaikan harga BBM terbesar dalam sejarah negara tersebut, yakni sebesar 55 rupee per liter.
-
Thailand (Etika Hemat Energi): Selain WFH bagi PNS, PM Anutin Charnvirakul mewajibkan aturan unik: suhu AC diatur di 26-27°C, larangan pakaian formal (beralih ke lengan pendek agar tetap sejuk), hingga instruksi menggunakan tangga ketimbang lift.
-
Vietnam (Perang Lawan Penimbunan): Dengan lonjakan harga minyak tanah hingga 80%, pemerintah Vietnam mendesak pelaku usaha menerapkan WFH dan melarang keras praktik spekulasi atau penimbunan BBM.
-
Sri Lanka (Hari Libur Tambahan): Negeri ini menerapkan kebijakan ekstrem dengan hanya beroperasi 4 hari seminggu. Setiap hari Rabu ditetapkan sebagai “hari libur” wajib bagi lembaga negara guna menekan konsumsi energi.
-
Mesir (Jam Malam Bisnis): Mulai 28 Maret, toko dan kafe di Mesir wajib tutup pukul 21.00. Lampu jalan dan papan iklan dipadamkan, ditambah kewajiban WFH satu hari seminggu bagi sektor non-krusial selama bulan April.
Kebijakan WFH kini telah bertransformasi menjadi “senjata” diplomasi ekonomi. Dengan mengurangi mobilitas, negara-negara ini berupaya menjaga napas APBN mereka dari cekikan harga energi global yang kian tak menentu.