Hanya dalam hitungan menit setelah Presiden Donald Trump mengumumkan “operasi tempur besar” terhadap Iran pada 28 Februari, medan perang baru meletus di dunia maya. Platform X (dahulu Twitter) langsung dibanjiri gelombang konten palsu yang menyesatkan, mengulang pola “endemik” yang menurut para peneliti selalu muncul setiap kali konflik bersenjata pecah.
Manipulasi Visual: Dari AI hingga Cuplikan Video Game
Investigasi WIRED menemukan ratusan unggahan di X yang mempromosikan klaim palsu mengenai skala dan lokasi serangan. Ironisnya, banyak dari konten ini berhasil meraup jutaan tayangan. Modus operandi para penyebar hoaks ini cukup beragam, mulai dari:
-
Daur Ulang Rekaman Lama: Video konflik masa lalu disajikan seolah-olah bukti serangan langsung (live) saat ini.
-
Rekayasa Kecerdasan Buatan (AI): Gambar dan video hasil generate AI yang tampak sangat meyakinkan.
-
Klip Video Game: Cuplikan dari simulator penerbangan seperti Microsoft Flight Simulator yang diberi keterangan sebagai adegan pertempuran udara asli.
Bisnis “Centang Biru” di Tengah Perang
Temuan yang paling meresahkan adalah keterlibatan akun-akun terverifikasi berbayar. Jurnalis WIRED, David Gilbert, melaporkan bahwa hampir semua akun yang membagikan video palsu tersebut memiliki “centang biru”.
Di bawah model bisnis X saat ini, pengguna bisa membeli verifikasi dengan biaya bulanan. Sebagai imbalannya, algoritma platform akan memprioritaskan unggahan mereka dan memberi akses ke bagi hasil pendapatan (ads revenue)—tanpa peduli apakah konten yang mereka bagikan akurat atau murni kebohongan.
Fenomena ini bukanlah hal baru. Data dari Institute for Strategic Dialogue mencatat dinamika serupa saat serangan Iran ke Israel pada April 2024, di mana 77% akun penyebar hoaks adalah akun berbayar. Bahkan, analisis NewsGuard selama perang Israel-Hamas 2023 menemukan angka yang mirip: 74% misinformasi paling viral berasal dari akun X terverifikasi.
Gagalnya Benteng Pertahanan “Community Notes”
Alat utama X untuk memerangi hoaks, Community Notes—yang mengandalkan sukarelawan untuk memberi koreksi—tampak kewalahan. PolitiFact menemukan bahwa akun penipu seringkali dibiarkan menyebarkan cuplikan palsu dalam waktu lama sebelum akhirnya dikoreksi.
Dengan konflik yang masih membara antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat di seluruh kawasan, volume konten manipulatif di X menunjukkan tanda-tanda yang mengkhawatirkan: kebenaran kini semakin sulit dicari di tengah bisingnya algoritma yang mengejar keuntungan.