JAKARTA – Presiden Peru Dina Boluarte resmi dimakzulkan oleh parlemen dalam sesi darurat pada Kamis malam (9/10), setelah 118 dari 122 anggota menyetujui pemecatannya di tengah gelombang protes nasional terkait lonjakan kejahatan terorganisir, pemerasan, dan undang-undang kontroversial soal dana pensiun wajib bagi pemuda.
Kepemimpinan Boluarte, yang menjabat sejak Desember 2022, terus didera kritik pedas atas kegagalannya mengatasi lonjakan kriminalitas. Sebagai salah satu pemimpin paling dibenci di dunia dengan tingkat kepuasan publik hanya 2–4 persen, Boluarte dituduh memperkaya diri secara ilegal dan bertanggung jawab atas penindakan mematikan terhadap demonstran. Survei terbaru menunjukkan mayoritas warga Peru memandang pemerintah serta parlemen yang didominasi konservatif sebagai sarang korupsi.
Eskalasi Protes Dari Bentrokan Berdarah Hingga Impeachment
Ketegangan mencapai titik didih pekan lalu ketika parlemen Peru mengesahkan undang-undang yang mewajibkan anak muda bergabung dengan dana pensiun swasta, meski banyak dari mereka bekerja di lingkungan tidak aman. Protes meledak pada Minggu malam (21/9), di mana sekelompok demonstran melempar batu dan bom molotov ke polisi, yang membalas dengan tembakan gas air mata.
Insiden itu terjadi sehari setelah bentrokan sengit antara demonstran dan aparat di dekat kantor presiden serta gedung parlemen pada Sabtu (20/9). Bentrokan tersebut melukai 18 orang, termasuk 12 polisi dan enam jurnalis lokal, menurut otoritas setempat serta organisasi independen. Kerusuhan ini menjadi pemicu bagi beberapa blok politik di parlemen untuk menyerukan penggulingan Boluarte, yang berujung pada pemakzulan darurat.
Ketua Parlemen Jose Jeri secara resmi mengumumkan pemecatan Boluarte dari jabatan presiden, menandai babak baru dalam instabilitas politik Peru yang telah berlangsung berbulan-bulan.
Suara Rakyat Kemarahan dan Harapan di Tengah Kekacauan
Warga Peru, terutama generasi muda, menyuarakan kekecewaan mendalam terhadap elit politik. Xiomi Aguiler (28), seorang demonstran, mengungkapkan frustrasinya, “Saya sangat marah, saya merasa benar-benar disesatkan oleh pemerintahan ini… dan Kongres yang melayani partai-partai politik.” Ia bahkan menyebut partai-partai politik sebagai “mafia yang mengakar di negara ini.”
Sementara itu, Jonatan Esquen, mahasiswa Peru berusia 18 tahun, melihat sisi positif dari gelombang protes ini. Baginya, aksi-aksi tersebut merupakan “awal dari kebangkitan, karena orang-orang akhirnya menyadari bahwa anak muda lebih aktif di media sosial dan di arena politik.”
Reaksi publik mencerminkan keinginan mendesak untuk reformasi, di tengah kekhawatiran akan stabilitas ekonomi dan keamanan nasional pasca-impeachment.
Dampak dan Prospek ke Depan
Pemakzulan Boluarte berpotensi memicu transisi kekuasaan yang rumit, mengingat parlemen yang terpecah dan protes yang masih berlangsung. Analis politik memperingatkan risiko eskalasi kekerasan jika penerus Boluarte gagal meredam ketidakpuasan rakyat. Saat ini, fokus utama adalah pemulihan kepercayaan publik terhadap institusi negara, sambil menangani akar masalah seperti korupsi dan kejahatan terorganisir.