JAKARTA – Sejumlah musisi internasional mengambil langkah tegas untuk menarik karya mereka dari Spotify setelah terungkap bahwa salah satu pendiri dari CEO platform streaming tersebut, Daniel Ek, telah berinvestasi pada perusaah pertahanan melalui pendanaan Prima Materia. Prima Materia, yang didirikan oleh Ek dan Sahkil Khan, pertama kali mengucurkan investasi pada perusahaan teknologi pertahanan Helsing pada 2021, dan baru-baru ini menambah investasi senilai 600 juta dola AS, seperti dilaporkan oleh Financial Times.
Salah satu band yang mengambil sikap keras adalah King Gizzard & the Lizard Wizard. Band asal Australia ini mengumumkan penghapusan seluruh katalog musik mereka dari Spotify setelah munculnya laporan mengenai keterlibatan Ek dalam pengembangan teknologi drone militer berbasis kecerdasan buatan (AI). Melalui Instagram Story mereka, King Gizzard menyampaikan, “Kami baru saja menghapus musik kami dari platform ini. Bisakah kami menekan para teknisi Dr. Evil ini untuk berkarya lebih baik? Bergabunglah dengan kami di platform lain.”
King Gizzard, yang telah meluncurkan 27 album studio dan lebih dari 50 album live, bukanlah satu-satunya yang memutuskan hubungan dengan Spotify. Deerhoof, band indie-rock asal Amerika, juga mengumumkan mereka akan menarik musik mereka dari platform ini. Dalam pernyataannya, Deerhoof menekankan ketidaksenangan mereka terhadap laporan yang menyebutkan Ek menggunakan kekayaan Spotify untuk memimpin perusahaan teknologi pertempuran AI. “Kami tidak ingin musik kami membunuh orang. Kami tidak ingin kesuksesan kami dikaitkan dengan teknologi pertempuran AI,” ungkap mereka.
Xiu Xiu, band rock eksperimental asal Amerika, turut mengikuti langkah serupa. Mereka mengungkapkan bahwa proses penghapusan musik mereka dari Spotify memerlukan waktu lebih lama dari yang diperkirakan karena komplikasi prosedural, namun mereka menegaskan bahwa hal itu akan segera diselesaikan. Selain itu, penyanyi folk Leah Senior dari Australia juga telah memboikot Spotify sejak 1 Juli 2025.
Label rekaman Kalahari Oyster Cult, yang mewakili berbagai artis, turut menarik katalog musik mereka dari Spotify. Mereka menjelaskan melalui Instagram bahwa keputusan ini diambil setelah berdiskusi dengan para artis yang mereka wakili, dan menegaskan bahwa mereka tidak ingin karya musik mereka mendukung platform yang dipimpin oleh individu yang berinvestasi dalam teknologi perang dan kekerasan.
Spotify, yang dalam beberapa waktu terakhir sudah disorot karena sejumlah kontroversi, kini kembali mendapat perhatian negatif seiring dengan kemunculan isu investasi Ek pada perusahaan pertahanan. Kontroversi ini turut memicu protes dari para musisi, yang merasa bahwa keberadaan mereka di platform tersebut tidak sejalan dengan nilai-nilai yang mereka perjuangkan.