Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino López, menyatakan bahwa serangan Amerika Serikat pada Sabtu (waktu setempat) menghantam sejumlah wilayah perkotaan di Venezuela. Menurutnya, serangan tersebut dilakukan menggunakan rudal dan roket yang ditembakkan dari helikopter tempur milik Amerika Serikat.
Padrino López mengatakan pemerintah saat ini masih mengumpulkan data terkait jumlah korban tewas dan luka-luka akibat serangan tersebut. Ia juga mengonfirmasi bahwa instalasi militer Fort Tiuna di Caracas menjadi salah satu target serangan.
Menhan Venezuela menegaskan bahwa negaranya tidak akan menerima kehadiran pasukan asing di wilayah nasional.
“Invasi ini merupakan penghinaan terbesar yang pernah dialami negara kami,” tegasnya.
Rekaman dramatis yang telah diverifikasi oleh CNN memperlihatkan kobaran api besar dan sejumlah ledakan di sebuah bandara di Higuerote, Venezuela. Dalam video tersebut tampak beberapa bola api melesat di langit di atas area kebakaran, yang diduga berasal dari sistem pertahanan udara yang terbakar.
Seorang warga Higuerote mengaku terbangun oleh suara keras yang awalnya ia kira sebagai kembang api. Namun tak lama kemudian, ledakan susulan terdengar di berbagai sudut kota, langit berubah kemerahan, dan warga berhamburan keluar rumah sambil berteriak panik.
Higuerote merupakan kota pesisir Venezuela yang terletak sekitar 85 kilometer di sebelah timur Caracas.
Media lokal Venezuela, Efecto Cocuyo dan Tal Cual Digital, sebelumnya melaporkan bahwa suara ledakan juga terdengar di Negara Bagian La Guaira, di utara Caracas, serta di wilayah Higuerote.
“Awalnya saya pikir itu seperti kembang api,” ujar pria berusia 23 tahun tersebut, yang meminta identitasnya dirahasiakan demi alasan keamanan.
“Lalu ledakan berikutnya terjadi dan tanah mulai bergetar. Saat itulah saya sadar ini jauh lebih serius.”
Ia menuturkan bahwa tetangganya berteriak dan berlarian di jalanan. Ketika keluar rumah, ia melihat dinding asap raksasa membumbung tinggi.
“Langit tiba-tiba berubah merah, lalu beberapa detik kemudian terdengar suara ledakan yang sangat keras. Setelah itu sunyi sekitar 20 menit, lalu terdengar lagi suara pesawat, disusul dua ledakan tambahan.”
“Segalanya terasa bergetar. Ledakannya tampak terarah, tetapi seolah-olah menghancurkan seluruh bandara,” lanjutnya.
Hingga dua jam setelah kejadian, ia mengaku belum mendengar sirene ambulans, polisi, maupun pemadam kebakaran.
“Bom terakhir jatuh sekitar 40 menit lalu. Setelah itu tidak ada suara apa pun. Banyak teman dan orang-orang yang saya kenal ketakutan dan mengunggah video di status WhatsApp. Situasinya benar-benar kacau.”
Serangan ini disebut menjadi bandara kedua di Venezuela yang terkena hantaman dalam rangkaian serangan pada Sabtu dini hari.