YOGYAKARTA – Peristiwa perampokan Keraton Yogyakarta menjadi salah satu babak paling kelam dalam sejarah Nusantara.
Peristiwa yang dikenal sebagai Geger Sepehi itu terjadi pada 20 Juni 1812, ketika pasukan Inggris menyerbu Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada waktu subuh.
Penyerbuan tersebut bukan hanya mengubah peta politik di Jawa, tetapi juga mengakibatkan hilangnya berbagai harta berharga milik Kesultanan, mulai dari uang perbendaharaan, emas, perhiasan, hingga naskah-naskah kuno yang memiliki nilai sejarah tinggi.
Peristiwa ini terjadi pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwana II, ketika situasi politik di Pulau Jawa sedang bergejolak.
Inggris yang saat itu berhasil mengambil alih kekuasaan dari Belanda di Jawa berusaha memperkuat pengaruhnya terhadap kerajaan-kerajaan lokal.
Namun, hubungan antara pihak Inggris dengan Kesultanan Yogyakarta memburuk karena Sultan menolak sejumlah kebijakan yang dianggap mengurangi kedaulatan keraton.
Penolakan tersebut akhirnya memicu konflik bersenjata yang berujung pada penyerbuan Keraton Yogyakarta.
Serangan dilakukan menjelang fajar oleh pasukan Inggris yang dipimpin atas perintah pemerintahan kolonial di bawah Thomas Stamford Raffles. Pasukan tersebut terdiri dari tentara Inggris dan pasukan sepoi atau prajurit asal India.
Dengan persenjataan yang lebih modern, mereka berhasil menembus pertahanan Keraton dalam waktu singkat.
Peristiwa ini menjadi salah satu sedikit kejadian dalam sejarah Jawa ketika sebuah keraton berhasil diduduki oleh kekuatan asing melalui serangan militer secara langsung.
Setelah berhasil menguasai kompleks Keraton, pasukan penyerbu melakukan penyitaan terhadap berbagai aset Kesultanan.
Uang tunai yang tersimpan di perbendaharaan kerajaan diambil, begitu pula emas, perhiasan, pusaka, serta berbagai benda bernilai lainnya.
Tidak hanya harta berupa logam mulia, perpustakaan kerajaan beserta koleksi manuskrip kuno juga ikut dirampas.
Banyak dokumen penting yang memuat sejarah, sastra, hukum, hingga kebudayaan Jawa kemudian berpindah tangan dan sebagian dibawa keluar dari Nusantara.
Bagi para sejarawan, hilangnya manuskrip tersebut menjadi kerugian yang tidak ternilai.
Sebab, naskah-naskah itu merupakan sumber utama yang merekam perkembangan budaya dan pemerintahan Kesultanan Yogyakarta pada masa lampau.
Sebagian koleksi diketahui kemudian menjadi bagian dari arsip dan perpustakaan di Inggris melalui koleksi pribadi sejumlah pejabat kolonial.
Akibatnya, banyak warisan intelektual Keraton yang hingga kini tidak lagi berada di tempat asalnya.
Sejarawan juga menjelaskan bahwa peristiwa tersebut memang disertai penjarahan terhadap kekayaan Keraton.
Namun, berbagai klaim yang pernah beredar mengenai jumlah emas dalam skala sangat besar tidak memiliki bukti sejarah yang kuat.
Berdasarkan penelitian sejarah, harta yang dirampas meliputi uang, perhiasan, manuskrip, serta benda-benda berharga lainnya, bukan sebagaimana klaim fantastis yang sempat ramai diperbincangkan beberapa tahun lalu.
Selain kerugian material, penyerbuan itu juga membawa dampak politik yang besar.
Setelah Keraton berhasil dikuasai, Sri Sultan Hamengkubuwana II dipaksa turun dari takhta.
Kekuasaan Kesultanan kemudian mengalami perubahan sesuai kepentingan pemerintah kolonial Inggris.
Peristiwa tersebut menjadi simbol berakhirnya salah satu bentuk kedaulatan politik Keraton Yogyakarta pada masa itu sekaligus memperlihatkan besarnya pengaruh kolonial terhadap kerajaan-kerajaan di Jawa.
Sejarawan menilai, penyerbuan tahun 1812 bukan sekadar aksi militer biasa, melainkan titik balik dalam sejarah Kesultanan Yogyakarta.
“Yang hilang bukan hanya kekayaan berupa uang dan perhiasan, tetapi juga manuskrip, arsip, serta warisan intelektual yang menjadi identitas budaya Keraton.”
“Dampaknya masih dirasakan hingga sekarang karena sebagian koleksi tersebut tidak pernah kembali,” ungkap pandangan yang sejalan dengan kajian sejumlah ahli sejarah mengenai Geger Sepehi.
Dalam kajian sejarah kolonial, peristiwa Geger Sepehi juga menunjukkan bagaimana kekuatan politik asing menggunakan operasi militer untuk mengendalikan pusat-pusat kekuasaan lokal.
Penaklukan Keraton Yogyakarta menjadi salah satu contoh nyata bahwa penguasaan wilayah tidak hanya dilakukan melalui diplomasi, tetapi juga melalui penggunaan kekuatan bersenjata yang diikuti penyitaan aset-aset penting milik kerajaan.
Kini, lebih dari dua abad setelah kejadian tersebut, kisah perampokan Keraton Yogyakarta masih menjadi bagian penting dalam perjalanan sejarah Indonesia.
Peristiwa ini bukan hanya mengingatkan tentang hilangnya uang tunai, emas, dan berbagai benda berharga milik Kesultanan, tetapi juga menjadi pelajaran mengenai pentingnya menjaga warisan budaya, arsip sejarah, dan identitas bangsa.
Geger Sepehi tetap dikenang sebagai salah satu peristiwa paling dramatis yang pernah dialami Keraton Yogyakarta sekaligus menjadi pengingat akan besarnya dampak kolonialisme terhadap kekayaan budaya Nusantara.***



