Era “Teh Kekinian” garapan kakak-beradik Jerome Polin dan Jehian Sijabat akhirnya menemui titik akhir. Setelah sempat meledak dan menjamur di seluruh sudut kota, Menantea resmi mengumumkan akan tutup permanen pada 25 April 2026. Penutupan ini menjadi akhir dari drama panjang internal perusahaan yang diwarnai isu kerugian mitra hingga dugaan penyelewengan dana miliaran rupiah.
Perjalanan Menantea yang dimulai dengan penuh euforia pada April 2021 resmi memasuki babak final. Sang pendiri, Jehian Panangian Sijabat, secara terbuka mengakui bahwa bisnis yang ia bangun bersama Jerome Polin tersebut akan menghentikan seluruh operasionalnya.
Keputusan pahit ini diambil sebagai upaya terakhir untuk menyudahi konflik dan masalah sistemik yang telah menggerogoti perusahaan dari dalam. Ini fakta-fakta yang terjadi dari perjalanan bisnis Menantea :
1. Ekspansi Cepat, Fondasi Rapuh
Menantea sempat menjadi fenomena dengan membuka lebih dari 200 outlet dalam waktu singkat. Namun, pertumbuhan kilat ini ibarat pedang bermata dua. Jehian mengakui bahwa manajemen “alpa” dalam membangun sistem operasional yang kuat, termasuk kurangnya riset mendalam saat memilih mitra bisnis serta absennya audit keuangan rutin.
2. Isu Penyelewengan Dana Rp38 Miliar
Di balik layar, situasi rupanya jauh lebih gelap. Sepanjang tahun 2023 hingga 2025, perusahaan didera berbagai keluhan serius, mulai dari tagihan pemasok yang menumpuk hingga dugaan fraud (kecurangan) internal. Bahkan, sempat mencuat isu penyelewengan dana hingga Rp38 miliar serta manipulasi laporan keuangan yang membuat performa bisnis terjun bebas.
3. Nasib Tragis Para Mitra Franchise
Dampak paling nyata dirasakan oleh para mitra franchise. Dengan modal awal yang tidak sedikit—mencapai Rp175 juta (termasuk mesin dan perlengkapan)—banyak mitra yang justru gigit jari. Kekecewaan meluap ke media sosial setelah beberapa gerai melaporkan penjualan yang sangat miris, bahkan ada yang hanya mampu menjual kurang dari 10 cup per hari.
4. Upaya Penyelamatan yang Terlambat
Jehian mengungkapkan bahwa selama dua tahun terakhir, pihak pendiri telah berupaya keras memulihkan kondisi perusahaan menggunakan dana pribadi. Mereka melakukan audit investigatif bersama akuntan publik dan menyelesaikan kewajiban kepada karyawan serta pemasok. Namun, luka yang sudah terlanjur dalam di mata mitra dan pelanggan sulit untuk disembuhkan.
5. Penghormatan Terakhir: Clearance Sale
Sebagai bentuk tanggung jawab moral dan dukungan terakhir bagi mitra yang masih bertahan, Menantea akan menggelar program clearance sale di sisa waktu operasionalnya hingga 25 April mendatang. Langkah ini diambil untuk menutup lembaran sejarah Menantea secara permanen dan mencegah ketidakpastian yang lebih lama.