Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo tak kuasa menahan air mata saat memaparkan beratnya tantangan pemulihan kelistrikan pascabencana banjir bandang dan longsor di Sumatera kepada Komisi VI DPR RI, Rabu (21/1/2026).
Bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025 itu disebut menimbulkan kerusakan infrastruktur listrik yang bahkan melampaui dampak Tsunami Aceh 2004.
Menghadapi skala kerusakan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, PLN kini menyusun rencana penanganan darurat baru atau new contingency master plan. Rencana ini untuk pertama kalinya memasukkan doomsday scenario—skenario terburuk yang sebelumnya tak pernah masuk perhitungan mitigasi risiko perusahaan.
Darmawan mengungkapkan, di Aceh saja terdapat 442 titik kerusakan sistem kelistrikan akibat banjir dan longsor, jauh lebih banyak dibandingkan tsunami 2004 yang hanya berdampak pada delapan titik. Sebanyak 66 tower transmisi rusak, dengan rincian 19 tower roboh dan 47 lainnya mengalami deformasi.
“Kami tidak pernah membayangkan ribuan gardu distribusi terendam lumpur. Kami juga tidak pernah memikirkan ribuan tiang listrik tegangan rendah bisa ambruk secara bersamaan,” ujar Darmawan dengan suara bergetar.
Untuk progres pemulihan, PLN telah berhasil memulihkan kelistrikan di Sumatera Barat hingga 100 persen sejak 23 Desember 2025. Di Sumatera Utara, pemulihan mencapai 99,97 persen, dengan dua desa di Kabupaten Tapanuli Utara masih mengalami pemadaman akibat banjir susulan.
Sementara di Aceh, dari sekitar 6.500 desa, masih terdapat 60 desa yang belum teraliri listrik karena akses jalan yang terisolasi.
Ke depan, PLN akan merombak standar teknis ketenagalistrikan, membangun dashboard bencana digital untuk memantau kerusakan dan progres pemulihan secara real-time, serta memperlebar jarak aman menara transmisi dari bantaran sungai.
PLN juga menyiapkan tower emergency di jalur cadangan sebagai antisipasi putusnya jaringan utama.
“Bencana Aceh ini kami masukkan sebagai doomsday scenario, karena kami tidak pernah membayangkan transmisi dari backbone Sumatera bisa benar-benar terputus menuju sistem Aceh,” kata Darmawan.
Sebagai bentuk dukungan bagi masyarakat terdampak, PLN menggratiskan listrik selama enam bulan untuk 600 unit hunian sementara (huntara) yang dibangun di Aceh Tamiang. PLN juga menanggung biaya pemasangan instalasi listrik, kWh meter, serta penerangan jalan umum di kawasan tersebut.
“Kami berada di lapangan selama berminggu-minggu. Untuk pertama kalinya, kami benar-benar merasakan bahwa manusia itu sangat kecil di hadapan kekuatan Tuhan Yang Maha Esa dan alam,” tutur Darmawan.
