Harga tiket pesawat rute Jakarta–Medan melonjak tajam selama periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Pada puncak arus liburan, harga tiket bahkan menembus Rp12,2 juta per orang, meski pemerintah telah memberlakukan kebijakan diskon tiket penerbangan domestik sebesar 13–14 persen.
Berdasarkan penelusuran di aplikasi penjualan tiket pada Rabu (24/12/2025), penerbangan kelas bisnis Batik Air Malaysia dibanderol hingga Rp12.220.300 per orang untuk keberangkatan 25 Desember 2025. Sementara itu, Garuda Indonesia menawarkan tiket kelas bisnis penerbangan langsung seharga Rp11.233.739 dengan waktu tempuh sekitar 2 jam 25 menit.
Harga tersebut tercatat melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan hari normal, yang umumnya berada di kisaran Rp5,5 juta per tiket kelas bisnis.
Tiket Ekonomi Ludes, Transit Jadi Pilihan
Untuk kelas ekonomi, tiket penerbangan langsung pada 25 Desember sudah habis terjual. Opsi yang masih tersedia hanyalah penerbangan transit dengan harga yang bervariasi, mulai dari Rp2,8 juta hingga Rp10,4 juta.
Pilihan termurah ditawarkan melalui kombinasi Batik Air Malaysia dan AirAsia Berhad Malaysia, seharga Rp2.833.320. Namun, penumpang harus transit di Kuala Lumpur dengan total durasi perjalanan mencapai 15 jam 10 menit.
Sementara itu, untuk keberangkatan 24 Desember, harga tiket ekonomi justru lebih mahal, yakni di kisaran Rp3,5 juta hingga Rp3,8 juta, dengan durasi perjalanan mencapai 17–25 jam akibat transit panjang.
Harga Mahal Bikin Gagal Mudik
Lonjakan harga tiket membuat sebagian masyarakat terpaksa membatalkan rencana mudik. Queen, perantau asal Medan yang tinggal di Jakarta, mengaku memilih bertahan di ibu kota karena harga tiket yang dinilai tak masuk akal.
“Harga tiket mahal kali. Dari minggu lalu sudah dipantau, tapi tiket ekonomi habis. Jadi Natalan di Jakarta saja, nanti pulang pas harga sudah normal,” ujarnya.
General Manager Garuda Indonesia Medan, Agny Gallus Pratama, membenarkan bahwa tiket di tanggal-tanggal tertentu sudah penuh karena banyak penumpang memesan jauh hari sebelum libur Nataru.
Diskon Pemerintah Tak Cukup Menahan Harga
Meski pemerintah telah menurunkan sejumlah komponen biaya penerbangan—mulai dari PPN ditanggung pemerintah sebesar 6 persen hingga penyesuaian fuel surcharge—harga tiket tetap tinggi akibat lonjakan permintaan.
Data Kementerian Perhubungan mencatat sekitar 9,8 juta orang memilih pesawat sebagai moda transportasi selama libur Nataru 2025, jauh di atas rata-rata hari biasa.
Pakar ekonomi menilai diskon yang diberikan pemerintah lebih berfungsi menahan lonjakan harga agar tidak semakin ekstrem, bukan untuk menurunkan harga di bawah level normal. Ketimpangan antara permintaan yang membludak dan keterbatasan kapasitas pesawat membuat harga tetap mengikuti mekanisme pasar.
