Presiden Amerika Serikat Donald Trump memicu ketegangan baru dengan sekutu-sekutu Eropa setelah membagikan gambar yang dimodifikasi secara digital di platform Truth Social yang menggambarkan Greenland sebagai wilayah Amerika. Aksi ini muncul menjelang pertemuan penting di World Economic Forum di Davos.
Satu gambar menampilkan Trump bersama Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio sedang menancapkan bendera AS di Greenland dengan tulisan “Greenland – US Territory Est. 2026.”
Postingan lainnya menunjukkan Trump bersama para pemimpin Eropa di Ruang Oval dengan peta yang menunjukkan Greenland, Kanada, dan Venezuela di bawah bendera AS.
Trump juga menyatakan bahwa ia baru saja berbicara melalui telepon dengan Sekretaris Jenderal Mark Rutte tentang isu Greenland dan bahwa akan ada pertemuan di Davos terkait hal tersebut. Dia menegaskan bahwa Greenland “sangat penting untuk keamanan nasional dan dunia” dan tidak ada jalan kembali dari posisinya.
Selain itu, Trump menyebutkan bahwa tarif impor 10 persen akan dikenakan mulai 1 Februari pada delapan negara Eropa yang menolak rencana AS ini, dan tarif itu akan meningkat menjadi 25 persen pada 1 Juni jika tidak tercapai kesepakatan pembelian Greenland oleh AS. Negara-negara yang ditarget antara lain Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, serta Finlandia.
Tanggapan Eropa dan Ketegangan Transatlantik
Para pemimpin Eropa mengecam langkah Trump tersebut sebagai bentuk pemerasan perdagangan dan ancaman yang dapat merusak hubungan transatlantik. Perdana Menteri Denmark serta sejumlah tokoh UE menegaskan bahwa Greenland bukan barang dagangan dan menolak tekanan AS.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan ancaman tarif juga berdampak buruk di Inggris, sementara negara-negara UE mempertimbangkan langkah balasan, termasuk kemungkinan mengaktifkan Instrumen Anti-Koersi Uni Eropa atau memberi sanksi terhadap AS terkait perdagangan.
Isu ini semakin memanas di tengah kekhawatiran bahwa strategi Trump bisa mengancam kerjasama di dalam NATO dan memicu perpecahan di antara sekutu lama, meskipun Amerika dan negara-negara Eropa tetap menyatakan pentingnya dialog diplomatik.