JAKARTA – Insiden kecelakaan kereta Bekasi yang melibatkan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek memicu perhatian serius dari Komisi V DPR RI yang mendesak investigasi menyeluruh segera dilakukan.
Peristiwa tabrakan yang terjadi di sekitar Stasiun Bekasi Timur pada Senin malam (27/4/2026) kini menjadi sorotan karena berpotensi mengungkap kelemahan sistem keselamatan transportasi rel di Indonesia.
Anggota Komisi V DPR RI, Danang Wicaksana Sulistya, menegaskan bahwa investigasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menjadi langkah krusial untuk memastikan penyebab utama insiden tersebut.
“Perlu investigasi lebih lanjut oleh KNKT untuk mengetahui secara detail penyebab kecelakaan ini, apakah faktor teknis, human error, atau masalah di perlintasan,” ujar Kapoksi Komisi V DPR RI Fraksi Gerindra.
Ia mengungkapkan bahwa informasi awal menunjukkan kecelakaan bermula dari kejadian di perlintasan sebidang JPL 85 yang diduga melibatkan sebuah taksi listrik berwarna hijau atau dikenal sebagai Green SM.
Insiden di titik perlintasan tersebut diduga memicu rangkaian kejadian yang berujung pada tabrakan antara KRL dan KA jarak jauh tersebut.
Komisi V DPR RI memastikan akan terus mengawal proses investigasi guna memastikan transparansi dan akuntabilitas dari seluruh pihak terkait.
Pengawasan juga diarahkan kepada operator kereta dan otoritas perhubungan agar meningkatkan standar keselamatan, khususnya di perlintasan sebidang yang selama ini dikenal sebagai titik rawan kecelakaan.
Danang menyoroti pentingnya evaluasi total terhadap sistem pengamanan di perlintasan, mulai dari pemanfaatan teknologi hingga kesiapsiagaan petugas di lapangan.
Selain itu, kesadaran masyarakat dalam mematuhi aturan lalu lintas di kawasan jalur kereta api juga dinilai menjadi faktor penting dalam mencegah kecelakaan serupa.
“Kami berharap hasil investigasi KNKT nantinya dapat menjadi dasar perbaikan sistem keselamatan transportasi perkeretaapian di Indonesia,” pungkasnya.***