JAKARTA – Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani, mengingatkan pemerintah untuk terus memperkuat kewaspadaan terhadap potensi masuknya virus Nipah ke Indonesia. Hal ini menyusul peningkatan kasus di sejumlah negara Asia, termasuk laporan terbaru dua kasus terkonfirmasi di negara bagian West Bengal, India, pada Januari 2026, sebagaimana dilaporkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Hingga kini, Indonesia belum mencatat adanya kasus terkonfirmasi virus Nipah pada manusia. Namun demikian, Netty menekankan pentingnya langkah antisipatif mengingat virus ini bersifat zoonotik dan memiliki tingkat kematian yang tinggi.
“Kewaspadaan tetap harus diperkuat mengingat karakter virus yang bersifat zoonotik dan memiliki tingkat kematian yang tinggi,” kata Netty dalam keterangannya, Jumat (6/2/2026).
Virus Nipah pertama kali diidentifikasi pada 1998 dan ditularkan dari hewan ke manusia, dengan kelelawar buah (Pteropus spp.) sebagai reservoir alami utama. Penularan ke manusia umumnya terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, seperti babi, atau konsumsi makanan yang terkontaminasi, misalnya getah nira mentah yang tercemar air liur kelelawar.
Netty menilai respons pemerintah saat ini sudah berada pada jalur yang tepat dan proporsional. Ia mengapresiasi langkah Kementerian Kesehatan yang telah menerbitkan Surat Edaran tentang kewaspadaan terhadap virus Nipah. Surat edaran tersebut mengatur penguatan pengawasan di pintu masuk negara, termasuk pengetatan pemeriksaan terhadap pelaku perjalanan internasional, alat angkut, serta barang impor dari negara terdampak.
Menurutnya, penerapan pemindai suhu tubuh, pendataan melalui aplikasi Satu Sehat Health Pass, serta kesiapan petugas kesehatan di bandara dan pelabuhan merupakan upaya preventif yang efektif dan perlu dilaksanakan secara konsisten.
Lebih lanjut, Netty menyoroti pentingnya penguatan sistem surveilans di seluruh tingkat fasilitas kesehatan, mulai dari layanan primer hingga rumah sakit rujukan. Deteksi dini gejala yang menyerupai infeksi virus Nipah, seperti demam tinggi, sakit kepala hebat, gangguan pernapasan, hingga ensefalitis, harus didukung oleh sistem rujukan dan pelaporan yang cepat serta terkoordinasi.
Pendekatan One Health dinilai menjadi kunci utama pencegahan, mengingat tingginya interaksi manusia dengan satwa liar di Indonesia, termasuk keberadaan kelelawar buah sebagai pembawa virus. Netty menekankan perlunya pengawasan lintas sektor terhadap lalu lintas hewan, perlindungan ekosistem, serta edukasi kepada masyarakat.
“Indonesia memiliki tingkat interaksi manusia dan satwa liar yang tinggi, termasuk keberadaan kelelawar sebagai reservoir alami virus. Pendekatan One Health menjadi sangat relevan. Pengawasan lalu lintas hewan, edukasi masyarakat, serta perlindungan ekosistem harus menjadi bagian dari strategi pencegahan,” jelasnya.
Ia juga mendorong pemerintah untuk menggencarkan edukasi publik terkait langkah pencegahan sederhana, seperti memastikan keamanan konsumsi pangan, pengolahan nira dan produk hewani secara higienis, serta penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.
“Edukasi ini penting agar masyarakat memiliki pemahaman yang tepat tanpa menimbulkan stigma maupun ketakutan berlebihan,” tambahnya.
Dengan langkah-langkah yang terkoordinasi tersebut, diharapkan Indonesia dapat tetap terlindungi dari ancaman virus Nipah yang berpotensi mematikan, sekaligus menjaga kesiapsiagaan sistem kesehatan nasional tanpa menimbulkan kepanikan publik.
