TEL AVIV, ISRAEL – Israel meningkatkan status siaga militer setelah serangan drone yang diluncurkan kelompok Houthi dari Yaman menghantam wilayah Eilat pada Rabu (24/9/2025) malam. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memerintahkan Angkatan Bersenjata Israel (IDF) menyiapkan operasi balasan dan memperketat pertahanan udara sebagai respons atas insiden tersebut.
Serangan ini menargetkan kota pelabuhan strategis di selatan Israel, yang menjadi sasaran berulang dari milisi yang didukung Iran.
Meski sistem pertahanan udara Iron Dome berhasil mencegat drone tersebut, insiden ini memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas, terutama di tengah dukungan Houthi terhadap kelompok-kelompok di Lebanon dan Gaza.
Netanyahu, dalam pernyataan resminya, menegaskan komitmen Israel untuk melindungi warganya. Ia memerintahkan IDF mengeksplorasi berbagai opsi respons militer, mulai dari serangan presisi hingga langkah-langkah pencegahan jangka panjang.
“Serangan apa pun terhadap kota-kota kami akan dijawab dengan tanggapan yang berat,” ujar Netanyahu, menurut sumber pemerintah Israel.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz tak kalah tegas dalam mengkritik aksi Houthi. Katz menyoroti pola serangan berulang dari milisi Yaman, yang sering dikaitkan dengan dukungan Tehran.
“Houthi tidak belajar dari Iran, Lebanon, dan Gaza,” tegas Katz. Ia melanjutkan ancamannya dengan nada yang lebih keras: “Siapa pun yang menyakiti Israel akan dibalas tujuh kali lipat.”
Latar Belakang Konflik Houthi-Israel
Konflik antara Israel dan Houthi telah berlangsung sejak akhir 2023, sebagai bagian dari perang proksi yang lebih besar melibatkan Iran. Houthi mengklaim serangannya sebagai solidaritas dengan warga Palestina di Gaza, sementara Israel memandangnya sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasional. Sejauh ini, serangan drone Houthi ke Eilat telah mencapai puluhan kali, meski kebanyakan dicegat tanpa korban jiwa.
Pakar keamanan internasional memperingatkan bahwa perintah balasan Netanyahu berpotensi memicu spiral kekerasan, terutama jika melibatkan target di Yaman atau Lebanon. IDF kini berada dalam status siaga tinggi, dengan peningkatan patroli udara di perbatasan selatan.
Dampak dan Respons Global
Insiden ini terjadi di tengah upaya diplomatik PBB untuk meredakan ketegangan di wilayah tersebut. Belum ada laporan korban jiwa dari serangan drone, tetapi warga Eilat dilaporkan mengalami kepanikan sementara.
Komunitas internasional, termasuk AS sebagai sekutu utama Israel, mendesak kedua pihak untuk menahan diri guna menghindari perang regional.