ACEH – Ramainya aktivitas ngabuburit dan berburu takjil di Kota Lhokseumawe, Aceh, menjelang waktu berbuka puasa menjadi gambaran nyata bahwa proses pemulihan kehidupan masyarakat pascabencana berjalan lebih cepat dari perkiraan.
Dua bulan setelah bencana melanda sejumlah wilayah Aceh, denyut kehidupan warga mulai kembali terasa, salah satunya terlihat dari padatnya aktivitas di Pasar Ramadan yang digelar di pelataran Masjid Islamic Center Lhokseumawe.
Menjelang senja dengan langit biru yang cerah, ratusan warga memadati area pelataran masjid untuk menunggu waktu berbuka sambil menikmati suasana Ramadan bersama keluarga.
Hamparan halaman luas di kawasan masjid dimanfaatkan masyarakat untuk duduk santai di atas tikar sederhana sembari menikmati suasana sore yang hangat.
Anak-anak terlihat berlarian dan bermain dengan riang, menciptakan atmosfer kebersamaan yang hangat di tengah masyarakat yang sebelumnya sempat terdampak bencana.
Pasar Ramadan ini juga menjadi magnet utama karena menghadirkan beragam kuliner khas yang dijajakan oleh para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).
Keberagaman menu takjil yang ditawarkan membuat masyarakat memiliki banyak pilihan untuk menyantap hidangan berbuka puasa.
Bagi para pedagang, tingginya jumlah pengunjung menjadi berkah tersendiri setelah sempat mengalami masa sulit selama beberapa waktu terakhir.
Muliza, pedagang timphan atau kue tradisional khas Aceh, mengaku bersyukur karena keberadaan Pasar Ramadan mampu menghidupkan kembali usahanya.
“Pasar ini sangat menguntungkan buat kami yang berdagang,” kata Muliza, ditemui di lokasi Kamis (5/3).
Ia menuturkan bahwa selama dua bulan setelah bencana melanda, aktivitas usahanya sempat terhenti sehingga penghasilannya pun ikut terhenti.

Memasuki bulan Ramadan, pemerintah daerah kemudian membuka Pasar Ramadan yang memberi kesempatan bagi para pedagang untuk kembali berjualan.
“Kemarin itu dua bulan tersendat untuk usaha. Alhamdulillah di bulan puasa ini (lancar),” kata dia yang mengaku sudah dua minggu ini berjualan di Pasar Ramadan.
Lonjakan jumlah pengunjung membuat dagangan timphan miliknya laris terjual hingga ratusan potong setiap hari.
Dalam sehari Muliza dapat menjual sekitar 800 keping timphan kepada para pembeli yang datang ke pasar tersebut.
Dari penjualan itu, ia mengaku bisa memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp1,5 juta per hari.
“Alhamduliah, kalau kemarin (saat bencana) sama sekali gak ada (keuntungan) ya. (Sekarang) sekitar Rp1,5 juta bersih untuk penjualan,” kata dia.
Muliza membuat sendiri timphan yang dijualnya dengan bahan dasar tepung ketan, pisang, dan santan yang dipadukan dengan isian khas seperti srikaya atau kelapa parut manis.
Untuk menjaga kualitas makanan tetap segar, proses pembungkusan timphan dilakukan langsung di lokasi tempat ia berjualan.
Proses pembuatan hingga makanan siap dijual biasanya memakan waktu sekitar satu setengah jam.
Selain melayani transaksi tunai, Muliza juga menyediakan metode pembayaran digital menggunakan kode QR atau QRIS untuk memudahkan pembeli.
Sistem pembayaran digital tersebut mempermudah masyarakat karena tidak perlu membawa uang tunai saat berbelanja takjil.
Bagi pedagang, penggunaan QRIS juga memudahkan proses transaksi karena tidak perlu lagi menyiapkan uang kembalian.
Zakkil Mubarak, salah satu warga Lhokseumawe, mengaku senang dengan keberadaan Pasar Ramadan karena banyak pilihan makanan yang bisa dinikmati.
“Banyak UMKM yang dilibatkan. Dan apa yang kita cari ada di sini,” kata dia.
Wali Kota Lhokseumawe Sayuti Abubakar menilai tingginya antusiasme masyarakat dan pelaku UMKM dalam Pasar Ramadan menjadi tanda positif kebangkitan ekonomi daerah.
Ia menyebut keberadaan pasar tersebut mampu mendorong masyarakat untuk kembali menjalankan aktivitas ekonomi setelah terdampak bencana.
“Sehingga ini menjadi semacam motivasi untuk melewati bencana. Untuk kembali melakukan aktivitas ekonomi, sehingga masyarakat bisa menghidupi keluarganya,” kata Sayuti.
Menurutnya, pemerintah kota hanya menyediakan fasilitas tempat bagi para pedagang untuk berjualan.
“Tentunya Pemkot akan membantu memberikan fasilitas apa pun. Agar pelaku UMKM ini bisa bertambah dan tentunya omzetnya bisa bertambah,” kata dia.***