JAKARTA – Armada Global Sumud Flotilla (GSF) menegaskan tetap berlayar menuju Gaza meski sempat menjadi sasaran serangan di perairan Tunisia.
Insiden itu terjadi dua malam berturut-turut, Senin (8/9/2025) dan Selasa (9/9/2025), ketika dua kapal diserang proyektil saat bersandar di pelabuhan Sidi Bou Said.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun guncangan psikologis sempat dirasakan para relawan.
Pemerintah Tunisia mengonfirmasi adanya serangan, meski menekankan tidak ada drone terdeteksi. Otoritas setempat juga berjanji melakukan investigasi penuh terkait serangan misterius ini.
Di tengah ketegangan, aktivis HAM asal Irlandia, Tara Reynor O’Grady, menegaskan bahwa misi kemanusiaan ini tidak akan berhenti.
Ia menyebut serangan hanya ditujukan untuk mengganggu konsentrasi dan menciptakan kepanikan.
“Jangan teralihkan oleh serangan, itu hanya dibuat untuk membingungkan orang sehingga menimbulkan kepanikan dan menyebarkan informasi palsu.”
“Tapi kami tetap teguh, jelas, dan fokus pada tujuan kami, yaitu mencapai Gaza, mematahkan pengepungan, serta membuka koridor laut kemanusiaan,” ucapnya dikutip dari Al Jazeera.
Ratusan relawan dari berbagai negara telah berkumpul di pelabuhan Tunisia sejak Rabu (10/9/2025).
Kapal bantuan dari Spanyol lebih dulu merapat pada Minggu (7/9/2025), disusul armada tambahan dari Tunisia. Meski demikian, keberangkatan masih ditunda lantaran persiapan teknis dan logistik belum rampung.
Menurut rencana, gelombang pertama kapal dengan kondisi terbaik akan berlayar menuju titik pertemuan di Laut Mediterania, sebelum bergabung dengan armada lain dari Italia dan Yunani.
Gelombang kedua menyusul setelah kapal yang masih diperbaiki siap diluncurkan.
Dua kapal yang diserang adalah Family dan Alma. Kapal Family sebelumnya digunakan untuk rapat komite pengarah flotilla dan menampung aktivis iklim asal Swedia, Greta Thunberg.
Sementara itu, komedian Irlandia Tadhg Hickey yang berada di kapal Alma menyebut serangan tersebut hanya sebatas upaya gangguan.
Meski ancaman terus menghantui, komite pengarah flotilla menegaskan bahwa pelayaran menuju Gaza tetap berjalan sesuai rencana.
Namun, sebagian relawan menyuarakan kekhawatiran terkait keterbatasan tempat di kapal, karena jumlah peserta yang ingin ikut serta melebihi kapasitas.
Untuk alasan keamanan, jumlah pasti armada yang akan terlibat tetap dirahasiakan.***
