JAKARTA – Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali menghadiri rapat kerja dengan Komisi I DPR RI, Menteri Pertahanan (Menhan), dan Panglima TNI di Gedung DPR RI, Jakarta, pada Selasa kemarin. Rapat tersebut membahas persetujuan penerimaan hibah alat pertahanan dan keamanan (Alpahankam) dari luar negeri, salah satunya hibah dua Patrol Boat dari Jepang.
Menteri Pertahanan RI Letjen TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin menjelaskan bahwa hibah dua kapal patroli (Patrol Boat) ini merupakan bantuan dari Armada Jepang dalam bentuk Official Security Assistance (OSA). Hibah tersebut sangat penting mengingat posisi geografis Indonesia sebagai negara maritim dengan sebagian besar wilayahnya berupa lautan.
“Indonesia memiliki 8 Choke Points yang sangat strategis, yang harus dijaga untuk mencegah potensi ancaman dari luar,” ujarnya.
Dua Patrol Boat ini nantinya akan ditempatkan di Ibu Kota Nusantara (IKN). Kapal berukuran panjang 18 meter dan lebar 5 meter ini memiliki kecepatan mencapai 40 knot, sehingga diharapkan mampu mendeteksi ancaman yang berpotensi memasuki perairan Indonesia melalui pulau-pulau kecil. Penempatan ini juga terkait dengan keberadaan Alur Laut Kepulauan Indonesia II (Alki II) yang melintasi kawasan IKN. Dengan kemampuan patroli yang mampu menjangkau pelosok-pelosok sungai, kapal ini diharapkan dapat memperkuat pengamanan wilayah laut dan sungai di sekitar IKN.
Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali menjelaskan, meskipun kedua kapal patroli ini merupakan hibah dari Jepang, kapal tersebut tergolong baru dan memiliki desain yang cocok untuk perairan Indonesia.
“Meskipun tidak dilengkapi senjata, kapal ini siap dipasangkan peralatan dan senjata dari Arsenal TNI AL,” tambahnya.
Ia juga menyebutkan, dengan bahan dasar aluminium dan mesin MTU, perawatan kapal ini akan lebih mudah, karena banyak komponen yang umum digunakan pada kapal perang Indonesia.
“Perawatan tidak menjadi masalah karena kapal ini memiliki komponen standar yang sering digunakan di armada TNI AL,” jelasnya
Dalam kesempatan tersebut, Menhan juga menggarisbawahi pentingnya menjaga selat-selat strategis seperti Selat Malaka dan Selat Makassar, yang sering dilintasi oleh kapal-kapal dari berbagai negara, termasuk Armada Jepang. Keberadaan Patrol Boat ini menjadi bagian dari upaya pengamanan Indonesia terhadap jalur laut yang krusial bagi kepentingan nasional dan internasional.
