Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, mengungkap angka mengerikan akibat serangan skala besar yang diluncurkan Amerika Serikat dan Israel sejak Sabtu lalu.
Dalam keterangan resminya pada Senin (2/3/2026), Boroujerdi menyebut korban jiwa dari kalangan sipil telah menembus angka 555 orang. Yang paling memilukan, sebagian besar korban adalah kelompok paling rentan.
Anak-Anak Sekolah Dasar Jadi Korban
“Sampai hari ini, lebih dari 555 warga sipil menjadi korban. Sebagian besar adalah wanita dan anak-anak. Kurang lebih 200 anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar kehilangan nyawa,” ujar Boroujerdi dengan nada berat di rumah dinasnya, Jakarta Pusat.
Tragedi ini terasa kian menyayat hati karena serangan terjadi saat warga sipil tengah menjalankan ibadah puasa Ramadhan. “Masyarakat non-militer yang sedang beribadah, dalam keadaan berpuasa, dijadikan korban,” tambahnya.
Diplomasi yang Terkhianati
Boroujerdi mengutuk keras aksi militer tersebut sebagai bukti nyata bahwa AS dan Israel tidak lagi menghargai jalur diplomasi. Menurutnya, serangan ini terjadi justru di saat Iran sedang berada di meja perundingan.
“Ini membuktikan sekali lagi bahwa mereka tidak patuh terhadap negosiasi. Terbukti bahwa saat kami sedang berunding, mereka justru melakukan penjarahan nyawa,” tegas sang Dubes.
Operasi militer yang dinamakan Operation Epic Fury oleh Pentagon ini dimulai pada 28 Februari dengan target fasilitas strategis Garda Revolusi Islam (IRGC). Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan dampak yang meluas ke pemukiman warga.
Serangan ini sebelumnya telah dikonfirmasi menewaskan sejumlah petinggi negara, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Kini, dengan ratusan nyawa sipil yang melayang, konflik ini bukan lagi sekadar perebutan pengaruh militer, melainkan sebuah krisis kemanusiaan besar di awal tahun 2026.