JAKARTA – Di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah pasca serangan Israel ke Teheran, Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak ditutup dan tetap terbuka untuk navigasi internasional. Pernyataan ini sekaligus membantah spekulasi yang berkembang mengenai potensi penutupan jalur strategis tersebut.
“Selat Hormuz tidak ditutup, Selat Hormuz tetap terbuka,” kata Boroujerdi saat ditemui di rumah dinasnya, Jalan Madiun, Menteng, Jakarta Pusat.
Boroujerdi menjelaskan, sebagai negara yang bertanggung jawab atas keamanan selat tersebut, Iran hanya menerapkan protokol lalu lintas khusus selama masa perang. “Pihak-pihak yang memang mematuhi protokol tersebut bisa dengan mudah melewati Selat Hormuz,” tegas diplomat senior itu.
Ia menambahkan, Iran telah menjaga Selat Hormuz selama ratusan tahun. Keamanan di wilayah perairan tersebut, menurutnya, berlaku untuk semua negara tanpa kecuali, termasuk Iran sendiri.
“Keamanan di Selat Hormuz untuk semua negara, di mana Iran juga termasuk di dalamnya, atau sama sekali tidak boleh ada negara yang memanfaatkan keamanan di sana,” ujar dia.
Boroujerdi juga melontarkan sindiran tajam kepada Amerika Serikat. Menurutnya, kekhawatiran internasional mengenai potensi penutupan selat seharusnya dialamatkan kepada AS. “Yang khawatir berkaitan dengan penutupan Selat Hormuz, harus menanyakan kepada Amerika Serikat yang datang dari jauh sekali ke kawasan Timur Tengah, kemudian mengganggu keamanan di Selat Hormuz,” tambahnya.
Pernyataan ini muncul di tengah memanasnya situasi setelah Israel melancarkan serangan ke Teheran pada Sabtu (28/2/2026) pagi. Serangan tersebut memicu reaksi cepat dari Israel yang langsung menutup wilayah udaranya dan menetapkan status darurat. Dikutip dari The Guardian, langkah itu diambil untuk mengantisipasi kemungkinan serangan balasan Iran menggunakan drone dan rudal. Juru bicara militer Israel menyebut serangan ke Teheran sebagai langkah pendahuluan untuk menghilangkan ancaman terhadap negaranya.
Sementara itu, kantor berita Agence France-Presse melaporkan adanya dua ledakan keras yang terdengar di ibu kota Iran pasca serangan. Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi mengenai korban jiwa atau kerusakan akibat insiden tersebut.
Dalam perkembangan terpisah, Iran saat ini sedang berduka atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Menyusul kabar duka tersebut, pemerintah Iran mendeklarasikan masa berkabung selama 40 hari dan menetapkan tujuh hari libur nasional.
Belum ada rincian lebih lanjut mengenai penyebab atau waktu pasti kematian pemimpin tertinggi yang telah memimpin Iran selama beberapa dekade itu.