JAKARTA – Pemimpin Tertinggi Korea Utara, Kim Jong Un, secara resmi memberikan dukungan penuh kepada pemimpin baru Iran, Sayyid Mojtaba Khamenei, dan menegaskan komitmen Pyongyang dalam “Poros Perlawanan” terhadap Zionisme.
Melalui pernyataan resmi yang beredar luas, Kim Jong Un menyampaikan keyakinannya bahwa kepemimpinan baru di Teheran akan mampu melanjutkan warisan perlawanan pendahulunya.
“Kami mengucapkan selamat kepada Iran atas terpilihnya Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei, dan kami yakin bahwa pemimpin ini akan mempermalukan Israel dan menghancurkan kesombongannya, seperti yang dilakukan ayahnya,” tegas Kim dalam pernyataan resminya.
Dukungan dari Pyongyang ini menjadi sinyal diplomatik yang kuat di tengah eskalasi militer yang semakin meluas. Pyongyang dan Teheran memang telah lama menjalin hubungan strategis, sering kali menyelaraskan sikap dalam menentang pengaruh Barat dan keberadaan Israel di kawasan Timur Tengah .
Sayyid Mojtaba Khamenei Resmi Memimpin di Tengah Duka
Pelantikan Sayyid Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru Iran dilakukan oleh Majelis Pakar yang beranggotakan 88 ulama senior melalui prosedur konstitusional yang ketat . Ulama berusia 56 tahun itu naik ke tampuk kekuasaan di saat paling kritis dalam sejarah modern Iran, menggantikan ayahnya, Ayatollah Sayyid Ali Khamenei, yang gugur dalam serangan udara AS-Israel pada 28 Februari lalu.
Sayyid Mojtaba mewarisi kepemimpinan di tengah duka yang mendalam. Serangan yang menewaskan ayahnya itu juga merenggut nyawa istri, ibu, saudara perempuan, dan sejumlah kerabat dekatnya di kediaman keluarga Khamenei di Teheran . Pengalaman pahit ini semakin mengokohkan tekadnya untuk melanjutkan poros perlawanan. Seperti ayahnya, ia dikenal memiliki pandangan garis keras terhadap Barat dan Israel serta memiliki hubungan erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) .
Ancaman Kematian dari Israel dan Respons AS
Dukungan internasional yang mengalir untuk Teheran langsung direspons dengan ancaman keras dari Israel. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, secara terang-terangan menyatakan bahwa pemimpin tertinggi Iran yang baru akan menjadi “target eliminasi” .
“Setiap pemimpin yang dipilih oleh rezim teror Iran untuk melanjutkan rencana penghancuran Israel, mengancam AS dan negara-negara di kawasan, serta menindas rakyat Iran, akan menjadi target eliminasi yang jelas. Tidak peduli siapa namanya atau di mana ia bersembunyi,” ujar Katz dalam pernyataannya.
Ancaman ini menjadi tantangan pertama yang harus dihadapi Mojtaba Khamenei begitu resmi menjabat. Israel bahkan menyatakan akan terus bertindak dengan kekuatan penuh untuk membongkar kemampuan rezim tersebut.
Sementara itu, Amerika Serikat melalui Presiden Donald Trump juga bereaksi keras. Trump secara terbuka menyatakan ketidaksenangannya dan kembali menegaskan bahwa pemimpin baru Iran harus mendapatkan persetujuan dari AS. “Saya tidak senang dengan pilihan Teheran atas Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi yang baru,” ungkap Trump seperti dikutip ABC News, Senin (9/3/2026) . “Jika dia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama,” tegasnya dalam wawancara terpisah.
Perang Tak Menunjukkan Tanda Mereda
Di tengah dinamika politik ini, pertempuran di darat terus berlangsung dengan intensitas tinggi. Pada hari kesembilan kampanye militer, asap hitam tebal mengepul di beberapa bagian Teheran setelah serangan menghantam fasilitas penyimpanan minyak. Angkatan udara Israel mengklaim telah melancarkan serangan terhadap sekitar 30 depot bahan bakar di seluruh Iran pada Sabtu (7/3/2026) yang digunakan untuk mendukung upaya perang, termasuk memproduksi propelan rudal balistik.
Teheran merespons dengan ancaman balasan yang tidak kalah keras. Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya memperingatkan bahwa jika serangan terhadap fasilitas energi Iran terus berlanjut, Teheran akan merespons dengan tindakan serupa di kawasan.
“Jika Anda bisa mentolerir harga minyak di atas 200 dolar AS per barel, teruslah mainkan permainan ini,” ancamnya.
IRGC juga mengklaim telah menghancurkan sistem radar milik pertahanan rudal THAAD milik AS di Timur Tengah.
Dengan dukungan penuh dari Pyongyang dan solidnya poros perlawanan, konflik ini diprediksi para analis akan terus berlanjut dengan eskalasi yang semakin dahsyat, membawa kawasan Timur Tengah ke babak baru konflik berkepanjangan .