JAKARTA – Mantan bintang sayap Real Madrid dan timnas Belgia, Eden Hazard, menyampaikan kekhawatirannya terhadap tekanan rasisme yang terus dialami penyerang Real Madrid, Vinícius Júnior.
Ia bahkan menilai tidak mustahil pemain asal Brasil itu memutuskan pensiun lebih cepat dari dunia sepak bola.
Hazard yang pernah bermain bersama Vinícius selama empat musim di Real Madrid sebelum gantung sepatu pada 2023 menyebut beban mental yang harus ditanggung rekan setimnya itu sangat berat karena terus menghadapi ejekan rasial dari sebagian suporter lawan di sepak bola Spanyol.
Sejak bergabung dari klub Brasil Flamengo pada 2018, Vinícius kerap menjadi sasaran pelecehan rasial di berbagai stadion di Spanyol, situasi yang berulang kali memicu kontroversi sekaligus kritik terhadap upaya penanganan diskriminasi dalam sepak bola.
Dalam wawancara dengan media Belgia RTBF, seperti dilansir ESPN, Hazard mengaku sering merasa kasihan kepada Vinícius karena sebelum pertandingan dimulai pun sang pemain sudah harus memikirkan potensi pelecehan yang mungkin kembali ia alami.
Hazard menilai kondisi tersebut dapat menjadi tekanan psikologis besar bagi pemain berusia 25 tahun itu karena berbagai kasus rasisme yang terjadi sering kali berakhir tanpa hukuman tegas bagi pelakunya.
Ia bahkan menyebut tidak akan terkejut jika suatu saat Vinícius memutuskan berhenti bermain sepak bola lebih cepat, misalnya ketika memasuki usia sekitar 30 tahun, karena merasa situasi rasisme yang dihadapinya tidak kunjung berubah.
Pernyataan Hazard muncul setelah Vinícius sempat melaporkan dugaan pelecehan rasial yang melibatkan pemain muda Gianluca Prestianni dalam laga playoff Liga Champions antara Real Madrid dan Benfica di Lisbon.
Pemain asal Argentina tersebut membantah tuduhan itu meskipun kemudian menerima sanksi larangan bermain sementara satu pertandingan dari UEFA sambil menunggu proses investigasi lebih lanjut.
Vinícius sendiri selama beberapa tahun terakhir dikenal sebagai salah satu figur paling vokal dalam kampanye melawan rasisme di sepak bola Eropa.
Meski mengakui mental Vinícius cukup kuat, Hazard tetap khawatir tekanan berkelanjutan itu pada akhirnya dapat memengaruhi semangat bermain sang pemain dalam jangka panjang.
Beberapa waktu lalu Vinícius bahkan sempat menangis dalam konferensi pers ketika mengungkapkan bahwa insiden rasisme yang ia alami membuat keinginannya untuk bermain sepak bola sempat menurun.
Hazard menegaskan bahwa di balik semua kontroversi yang terjadi, Vinícius sejatinya hanyalah pesepak bola yang ingin menikmati permainan dan mengekspresikan bakatnya di lapangan.
Menurutnya, banyak orang lebih fokus pada kontroversi yang mengelilingi Vinícius daripada menghargai kualitas luar biasa yang ia tampilkan sebagai salah satu pemain paling berpengaruh di lapangan.
Situasi tersebut dinilai membuat tekanan mental semakin besar karena setiap kali memasuki lapangan, Vinícius tidak hanya harus memikirkan pertandingan tetapi juga kemungkinan menghadapi perlakuan diskriminatif dari tribun stadion.***