Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan rencana pengurangan tenaga kerja besar-besaran pada Senin, dengan menghapus sekitar 2.300 posisi atau hampir seperempat dari total staf globalnya pada musim panas 2026.
Langkah ini diambil sebagai respons atas tekanan finansial serius menyusul keluarnya Amerika Serikat dan Argentina dari keanggotaan organisasi tersebut.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menyebut tahun 2025 sebagai “salah satu periode tersulit” dalam sejarah lembaga kesehatan global itu. Ia menegaskan bahwa keputusan ini merupakan “proses yang menyakitkan, tetapi perlu” demi melakukan penataan ulang prioritas dan struktur organisasi.
Pengumuman tersebut disampaikan bertepatan dengan berlangsungnya Sidang ke-158 Dewan Eksekutif WHO di Jenewa, yang dijadwalkan hingga 7 Februari. Dalam pertemuan ini, negara-negara anggota membahas dampak luas dari krisis pendanaan terhadap operasional dan mandat WHO.
Keluarnya AS Tinggalkan Lubang Pendanaan Besar
Amerika Serikat, selama ini donor tunggal terbesar WHO dengan kontribusi sekitar 18 persen dari total pendanaan, secara resmi keluar dari organisasi tersebut pada 22 Januari 2026. Keputusan ini diambil setahun setelah Presiden Donald Trump menandatangani perintah eksekutif penarikan diri pada hari pertama masa jabatan keduanya.
Pemerintah AS menuding WHO melakukan “salah penanganan” dalam menghadapi pandemi COVID-19—klaim yang secara tegas dibantah oleh WHO.
Hingga kini, Washington masih memiliki tunggakan iuran sekitar US$260 juta untuk tahun anggaran 2024 dan 2025, memunculkan persoalan hukum internasional terkait keabsahan dan konsekuensi penarikan diri tersebut.
Sementara itu, Argentina juga mengonfirmasi keputusannya untuk keluar dari WHO pada Mei 2025 di bawah pemerintahan Presiden Javier Milei. Meski kontribusi tahunan Argentina—sekitar US$8 juta—jauh lebih kecil dibanding AS, langkah ini turut memperparah tekanan finansial yang dihadapi organisasi.
Restrukturisasi Besar dan Kekhawatiran Global
Sebagai bagian dari restrukturisasi, WHO akan memangkas 805 posisi di kantor pusat Jenewa dan 638 posisi di kantor regional Afrika. Selain itu, jumlah divisi program akan dipangkas dari 10 menjadi 4, sementara departemen akan dikurangi dari 76 menjadi 34.
Sekitar setengah dari pengurangan staf diproyeksikan terjadi melalui pensiun dan pengurangan alami, sisanya melalui penghapusan langsung posisi kerja.
Sejumlah pakar kesehatan masyarakat menyuarakan kekhawatiran bahwa langkah ini dapat melemahkan kemampuan WHO dalam merespons wabah penyakit global.
Infectious Diseases Society of America menilai penarikan diri AS sebagai tindakan “picik dan keliru”, seraya menegaskan bahwa kerja sama kesehatan lintas negara sangat penting karena penyakit menular tidak mengenal batas wilayah.