JAKARTA — Memasuki enam bulan kepemimpinan, Presiden Prabowo Subianto menorehkan prestasi membanggakan melalui Kabinet Merah Putih.
Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Senin (5/5), ia mengumumkan keberhasilan Indonesia mengendalikan harga pangan dan mencatatkan stok beras tertinggi sepanjang sejarah, di tengah gejolak ekonomi global yang penuh tantangan.
“Inflasi kita salah satu terendah di dunia, mungkin di antara lima negara yang terendah di dunia. Mungkin inflasi yang lebih rendah dari kita, mungkin Tiongkok,” ungkap Presiden Prabowo.
Ia menegaskan bahwa capaian ini adalah hasil dari kebijakan ekonomi yang terarah, melanjutkan fondasi kuat dari pemerintahan sebelumnya, namun diperkaya dengan strategi yang lebih progresif.
Stabilitas harga pangan menjadi sorotan utama, terutama saat momen krusial seperti Natal dan Lebaran, yang kerap memicu kenaikan harga.
“Alhamdulillah akhir tahun, Natal, dan Lebaran tahun ini di masa pemerintah kita harga-harga aman. Stok pangan bersedia,” tegasnya.
Lebih membanggakan, stok beras nasional kini mencapai rekor tertinggi dalam 57 tahun, didorong oleh lonjakan produksi hingga 25% di wilayah seperti Sumatera Selatan.
Keberhasilan ini tak lepas dari respons cepat pemerintah terhadap tantangan iklim seperti El Nino dan La Nina.
Dengan mengerahkan puluhan ribu pompa air untuk irigasi, pemerintah memastikan produktivitas lahan pertanian tetap terjaga.
Presiden Prabowo juga berbagi nostalgia pribadi, mengenang masa kecilnya saat sang ayah, Soemitro Djojohadikusumo, sebagai Menteri Perdagangan, harus menghadapi ketegangan akibat harga pangan yang melambung.
“Saya sudah lama jadi orang Indonesia. Dan saya waktu anak kecil, orang tua saya Menteri Perdagangan. Jadi saya lihat bagaimana setiap lebaran, setiap akhir tahun, orang tua saya tegang,” kenangnya.
Untuk menjaga keadilan bagi petani, pemerintah menerapkan kebijakan tegas berlandaskan Pasal 33 UUD 1945.
“Kalau ada penggilingan padi yang membeli dengan harga rendah setelah panen, kita cabut izinnya. Kita tidak main-main,” tegas Prabowo.
Ia menutup dengan pesan bahwa ketahanan pangan nasional harus menguntungkan semua pihak.
“Kalau pengusaha untung, rakyat juga harus untung. Petani harus merasakan hasil kerja kerasnya,” pungkasnya, menegaskan visi pemerintahan yang berpihak pada rakyat.***