JAKARTA – Presiden Türkiye, Recep Tayyip Erdoğan menyuarakan optimisme hati-hati bahwa konflik yang melibatkan Amerika Serika, Israel, dan Iran masih dapat dihentikan melalui jalur diplomasi, meski ia memperingatkan risiko besar bagi karyawan dan ekonomi global.
Dalam pidato mingguan di parlemen pada 11 Maret 2026 yang dikutip dilansir Anadolu, Erdoğan menegaskan bahwa wilayah kembali diselimuti “bau darah dan mesiu akibat salah perhitungan, salah penilaian, dan provokasi dari jaringan yang haus darah.”
Serangan gabungan AS–Israel terhadap Iran sejak 28 Februari menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah pejabat keamanan senior. Iran membalas dengan serangan rudal dan drone ke Israel serta pangkalan militer AS di kawasan, termasuk memblokade Selat Hormuz.
Erdoğan menekankan, “Kami belum kehilangan harapan untuk gencatan senjata. Perang ini harus dihentikan sebelum meningkat dan sepenuhnya melahap wilayah ini dalam kobaran api. Jika diplomasi diberi kesempatan, ini pasti dapat dicapai.”
Türkiye sejauh ini menghindari serangan langsung, meski terdapat pangkalan militer AS di wilayahnya. NATO sendiri telah mengerahkan sistem pertahanan udara Patriot di Malatya setelah dua rudal balistik Iran dicegat pada 4 dan 9 Maret.
Erdoğan juga menegaskan bahwa Turki tidak akan terjebak dalam “kampanye sistematis lobi anti-Turki” dan akan tetap berhati-hati menjaga stabilitas domestik. Ia menambahkan bahwa sejak awal konflik, Ankara telah menjalin kontak dengan Iran, AS, dan negara-negara regional untuk mendorong negosiasi.
Dalam percakapan telepon dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada 10 Maret, Erdoğan menekankan bahwa konflik Iran tidak boleh menghambat proses diplomasi untuk mengakhiri perang di Ukraina.