MEKSIKO CITY – Kekerasan brutal yang meletus akibat kematian pemimpin kartel narkoba terkemuka di Meksiko menimbulkan ancaman serius terhadap persiapan Piala Dunia 2026. Para pakar keamanan memperingatkan bahwa konflik bersenjata ini dapat mengganggu stabilitas di kota-kota tuan rumah turnamen sepak bola global tersebut, di tengah operasi militer yang memicu respons ganas dari kelompok kriminal.
Konflik pecah setelah pasukan militer Meksiko menewaskan Nemesio Oseguera Cervantes, alias El Mencho, bos Kartel Jalisco New Generation (CJNG), salah satu sindikat narkoba paling berpengaruh di negara itu. Sebagai balasan, anggota CJNG terlibat dalam baku tembak sengit dengan tentara, memblokir jalan raya utama, dan membakar puluhan kendaraan di berbagai wilayah.
Kekacauan pertama kali muncul di Negara Bagian Jalisco, wilayah barat-tengah Meksiko, yang langsung memberlakukan status darurat keamanan tingkat tinggi. Situasi kemudian meluas ke lusinan daerah lain. Video yang beredar di media sosial menampilkan kelompok bersenjata berpatroli di jalanan serta kolom asap tebal dari lokasi kejadian.
Dalam kurun waktu 24 jam terakhir, setidaknya 25 personel Garda Nasional dilaporkan tewas dalam bentrokan tersebut, menurut laporan resmi pemerintah Meksiko.
Ancaman Langsung terhadap Venue Piala Dunia
Guadalajara, pusat administratif Jalisco dengan lebih dari satu juta penduduk, dijadwalkan menjadi tuan rumah empat pertandingan Piala Dunia 2026. Sementara itu, Mexico City akan menggelar lima laga, dan Monterrey empat pertandingan lainnya. Eskalasi kekerasan ini memicu pertanyaan besar mengenai kemampuan Meksiko menjamin keamanan bagi jutaan pengunjung internasional.
“Kalau Anda menekan kartel, akan ada perlawanan. Bahayanya adalah situasi keamanan bisa menjadi sangat sulit dikendalikan,” ujar Javier Eskauriatza, asisten profesor hukum pidana di Universitas Nottingham, dikutip dari BBC pada Selasa (24/2/2026).
Menurutnya, kekosongan kepemimpinan pasca-El Mencho berpotensi memicu perebutan kekuasaan, baik di internal organisasi maupun dengan kelompok rival, yang dapat memperburuk ketidakstabilan.
Meski demikian, Eskauriatza menyoroti adanya kepentingan ekonomi kartel dalam kesuksesan ajang tersebut. “Secara umum, kartel memiliki kepentingan ekonomi untuk memastikan Piala Dunia berjalan damai. Mereka bukan hanya menyuap politisi dan aparat, tetapi juga berinvestasi dalam bisnis legal seperti restoran dan hotel. Mereka bagian dari sistem ekonomi,” katanya.
CJNG, yang didirikan pada 2009, disebut menguasai aset senilai lebih dari Rp 227 triliun dan memiliki puluhan ribu anggota. Kelompok ini kerap dikaitkan dengan aksi pembunuhan massal, penculikan, serta pembunuhan pejabat publik. Di sisi lain, dukungan lokal tetap ada karena kontribusi mereka terhadap proyek komunitas.
“Tanggapan CJNG dalam beberapa hal merupakan bagian dari aturan main. Jika pemimpin ditangkap atau tewas, mereka harus merespons agar tidak terlihat lemah,” tambah Eskauriatza.
Respons Internasional dan Dampak Wisata
Pemerintah Amerika Serikat mengeluarkan imbauan bagi warganya di Jalisco untuk tetap berada di dalam ruangan hingga situasi terkendali. Kanada, mitra tuan rumah Piala Dunia bersama Meksiko dan AS, membatalkan seluruh penerbangan ke Puerto Vallarta. Data aplikasi pelacakan udara menunjukkan sejumlah pesawat internasional terpaksa kembali ke bandara asal.
“Terkait wisatawan, risikonya moderat,” ujar Karina Garcia-Reyes, dosen senior kriminologi di UWE Bristol. Ia menilai otoritas setempat masih mampu mengelola risiko selama tidak ada eskalasi lanjutan.
Tantangan Keamanan Jangka Panjang
Di Meksiko, empat pertandingan liga domestik, termasuk dua dari divisi utama, ditunda akibat kondisi keamanan. “Masyarakat berharap ini hanya aksi pembalasan sementara. Namun, tetap ada risiko periode ketidakstabilan baru,” kata Monica Serrano Carreto, profesor hubungan internasional di El Colegio de Mexico.
Ia juga menyoroti kekuatan persenjataan kartel yang dinilai semakin canggih. “Kita telah melihat sebelumnya bahwa mereka memiliki senjata yang mampu menjatuhkan helikopter militer,” ujarnya.
Tekanan politik dari Amerika Serikat turut memperumit situasi. Presiden Donald Trump mendeklarasikan kartel sebagai organisasi teroris dan mendorong ekstradisi puluhan pemimpin kelompok kriminal.
“Respons seperti ini bukan hal unik, tetapi kali ini sangat serius dan berskala besar,” ujar Jon Benjamin, Duta Besar Inggris untuk Meksiko periode 2021–2024.
Situasi keamanan di Meksiko terus dipantau ketat oleh otoritas nasional dan internasional, dengan harapan konflik mereda sebelum memengaruhi persiapan Piala Dunia 2026 yang akan melibatkan 48 tim nasional.